Overblog Follow this blog
Administration Create my blog
May 23 2013 5 23 /05 /May /2013 22:35

Ada kutipan percakapan menarik dalam film the bucket list. Percakapan antara dua orang yang divonis hidupnya tidak akan lama lagi oleh dokter karena suatu penyakit. Edward Perriman cole dan Carter. Ketika mereka bercakap-cakap di atas piramida mesir, carter membuka obrolan dengan kepercayaan orang Mesir tentang kematian. Carter berkisah bahwa ketika seseorang tercarabut roh dari raganya, maka dewa akan memberikan dua pertanyaan yang menentukan masuk tidaknya roh tersebut ke dalam surga. Pertanyaan pertama “Have you found joy in your life?”. Bisa yes, atau no. Jika roh tersebut menjawab yes, maka diajukan pertanyaan kedua. “Have your life brought joy to others?”. Pertanyaaan yang mungkin bagi sebagian orang sulit dijawab.

 

Di luar kepercayaan orang mesir tersebut, bagi saya dua pertanyaan tersebut membuat saya termenung. Sudahkan saya menemukan kebahagiaan dalam hidupku ini? kebahagiaan. Ya, kebahagiaan menurut sebagian orang diukur dengan seberapa banyak uang dan modal yang dipunyai. Sebagian lagi mengatakan kebahagiaan hanya ada dalam mimpi. Sebagian lain yang (mungkin diiyakan oleh banyak orang) bahwa kebahagiaan itu berasal dari hati yang ikhlas menjalani kehidupan ini dengan baik.

 

Namun bagi saya, kebahagiaan itu simpel. Membuat orang lain bahagia merupakan kebahagiaan. Mampu menyelesaikan tugas merupakan kebahagiaan. Makan bersama dengan anak-anak merupakan kebahagiaan. Melihat anak didik bisa membaca merupakan kebahagiaan. Melihat anak didik berani memimpin barisan apel merupakan kebahagiaan. Mendapatkan sapaan “selamat pagi pak guru” pada pagi hari merupakan kebahagiaan. Mendengar celoteh anak yang lucu di kelas merupakan kebahagiaan. Anak-anak menggandeng tangan saya ketika turun dari kapal merupakan kebahagiaan. Ya, saya selalu merasakan kebahagiaan di sini, di pulau yang sebentar lagi akan saya tinggalkan.

 

Pertanyaan kedua, sudahkah hidupku ini membawa kebahagiaan bagi orang lain? Ini yang sulit dijawab. Sudah belum? Barangkali lebih mudah mengidentifikasi apakah diri kita bahagia atau tidak. Namun untuk mengidentifikasi apakah kehidupan kita membawa kebahagiaan bagi orang lain itu bukan perkara yang mudah. Setidaknya itu yang saya rasakan. Apalagi setiap karakter selalu unik dan berbeda. Membahagiakan orang lain itu belum tentu dengan membantunya dari kesulitan, membuat orang lain tertawa, membuat orang lain nyaman. Bukan. Bahkan terkadang perlakuan yang menurut kita dan orang lain membahagiakan, belum tentu secara obyektif memang membuat bahagia. Jadi, saya tidak tahu apakah hidup kita ini membuat orang lain bahagia atau tidak, yang pasti setiap orang harus berbuat kebaikan kepada setiap orang. Ya, berbuat baik belum tentu membahagiakan, dan hal yang bahagia belum tentu baik.

 

Sudah hampir satu tahun saya di daerah penempatan saya sebagai pengajar muda. Semoga apa yang saya lakukan ini merupakan langkah yang membawa kebahagiaan kehidupan  untuk siapa saja.

 

Tahuna, 23 Mei 2013

Repost 0
Published by Admin - in TOKOH
write a comment
May 23 2013 5 23 /05 /May /2013 22:27
Kamis, 23 Mei 2013 | 18:40 WIB
 
dok.Indonesia Mengajar

 

KOMPAS.com - Setelah bertemu Pak Azhar, Mesa Rahmi berpendapat bahwa guru yang hebat adalah guru yang mau dan bisa mendongeng. Pasalnya, melalui dongeng, guru atau orangtua bisa menyampaikan suatu pengajaran kepada anak-anak secara menyenangkan sekaligus membuat anak-anak merasa terhibur.

Pak Azhar punya stok cerita dongeng yang sangat banyak. Menariknya, anak-anak selalu tertarik bahkan sejak Pak Azhar baru mau memulai ceritanya. Anak-anak yang berlari-larian bisa seketika berkumpul dan duduk untuk mendengarkan dongeng yang dibawakannya.

Sebagai pengajar muda di SDN Belang-Belang, Bacan, Halmahera Selatan, Mesa pun belajar. Mesa sadar tak semua orang memiliki bakat mendongeng, namun semua guru dan orangtua bisa belajar mendongeng seperti Pak Azhar. Tak ada yang lebih membahagiakan selain mengetahui bahwa anak-anak belajar tentang nilai-nilai positif dalam kehidupan...

"Guru Hebat: Si Jago Dongeng"

Setiap Didikan Maghrib di Belang-Belang, akan ada ritual belajar bacaan shalat, tajwid, iqra’, belajar pelajaran umum, siraman rohani, dan yang paling diminati adalah sesi dongeng! Anak-anak sangat suka mendengar cerita dongeng berupa kisah nabi-nabi, sahabat-sahabat, cerita suri tauladan bahkan cerita lucu seputar orang sini. Mereka yang ketika belajar baca doa suka nyembunyiin kopiah temannya, gangguin temen, pukul-pukulan bahkan lari-larian di dalam masjid akan diam ketika ada guru yang mau mendongeng.

Kenapa mendongeng? Karena anak-anak saya sangat suka bercerita dan sangat suka mendengar cerita. Sekali mendengar cerita, mereka akan cepat sekali ingat dan walaupun cerita itu diceritakan berulang-ulang mereka akan tetap tertawa pada waktu yang sama dengan suara tawa yang sama. Pak Azhar lah yang pertama kali membuat saya sadar akan kesukaan anak-anak akan dongeng. Anak-anak selalu ingat nasehat-nasehat yang diceritakan lewat dongeng. Memang dongeng adalah media efektif untuk menyampaikan pesan moral dan nilai-nilai pada anak-anak.

Dan sesi dongeng yang paling ditunggu anak-anak adalah sesi dongeng dari sang Abu Nawas-nya Belang-Belang, Pak Azhar! Kalau pas saya yang mendongeng, saya harus mengubah suara (suara cempreng binatang, atau suara berat), mengeluarkan ekspresi aneh, dan melakukan tingkah konyol, barulah mereka tertawa terpingkal-pingkal. Berbeda dengan Pak Azhar, he is a talented storyteller! Bahkan sebelum dia mulai bercerita, baru mengeluarkan kata-kata: ‘pak guru mau cerita, mau kase dengarkah tarada?’ anak-anak akan menjawab dengan antusias dan bahkan sudah ada yang tertawa!

Siapa Pak Azhar? Pak Azhar adalah guru di SD Belang-Belang yang sudah bertugas disana beberapa bulan sebelum almarhum Pak Hendra (PM I) bertugas. Dia menemani Pak Hendra bertugas dari hanya berdua memegang kelas, sampai sekarang ketika jumlah guru yang hadir sudah lumayan banyak. Pak Azhar juga pernah masuk di acara metroTV bersama Pak Hendra, tapi namanya salah dituliskan disana, dan itu selalu menjadi bahan tertawaan diantara kita. Dia seseorang yang suka bercanda dan sedikit jahil seperti Abu Nawas. Dan guru yang menurut saya dan 2 PM (PM I dan PM III) sebelum saya sebagai guru yang punya integritas.

Dia punya aura sendiri yang membuat anak-anak memperhatikan dan menikmati cerita, selain karena kesamaan bahasa dan budaya, dia juga sudah paham betul hal-hal yang akan membuat anak tertawa. Bahkan tanpa harus mengubah suaranya anak-anak mendengarkan dengan antusias, dan saya masih belajar dari dia untuk menjadi pendongeng hebat. Pak Azhar juga punya banyak stok dongeng yang bisa dia ceritakan ke anak-anak, bahkan jika dia mengulang cerita yang sama, anak-anak akan dengan senang hati mendengarkan. Dan lebih hebatnya lagi, pesan cerita juga sampai ke anak-anak, cerita Abu Nawas yang mengajarkan tentang jangan sombong, si katak yang terus berjuang tanpa mendengar ocehan orang lain, Nabi Muhammad dan banyak cerita lain.

Dan menurut saya Guru yang Hebat adalah guru yang mau dan bisa mendongeng, karena mereka bisa menghibur anak-anak sekaligus mengajarkan mereka tanpa terlihat terlalu memaksa. Tidak semua orang mempunyai bakat mendongeng, tapi setiap orang bisa belajar, seperti saya yang akhirnya mulai belajar mendongeng untuk anak-anak, dan ternyata sangat menyenangkan! (kenapa ga belajar dari dulu aja coba :D). Terima kasih buat inspirasinya Pak Guru Azhar! :)

indonesiamengajar.org/cerita-pm/mesa-rahmi-2/guru-hebat-si-jago-dongeng

 

Repost 0
Published by Admin - in TOKOH
write a comment
April 6 2013 7 06 /04 /April /2013 14:21
Senin, 25/02/2013 11:17 WIB

M Aji Surya*) - detikNews

Jakarta - Fenomena politik teranyar tiba-tiba menyeruak di jagad Indonesia. Rating ketenaran Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, melesat bak meteor yang jatuh di Siberia, Rusia. Mengguncangkan dunia persilatan politik dan menggegerkan masyarakat. Gubernur yang sering dipanggil Jokowi ini berdasarkan survei baru-baru ini ia bisa menjadi salah satu kandidat presiden yang sangat berpotensi.

Saking hebohnya, kemudian berkembang sebuah pembicaraan di masyarakat bahwa calon presiden manapun kalau ditandemkan dengan Jokowi kemungkinan bisa memenangkan pemilu kursi nomor satu Indonesia. Bukan hanya itu, ada joke yang mengatakan bahwa Jokowi bisa menang pilpres meskipun disandingkan dengan sebuah benda mati, seperti bangku.

Unik, Jokowi yang berwajah sederhana itu mampu meng-KO para kandidat presiden yang setiap hari beriklan dan menyatakan memiliki kedigdayaan dalam mengatur negeri 240 juta penduduk ini. Pria asal Solo tersebut mengeliminir nominasi mereka yang berkantong tebal dan bahkan memiliki segudang konsep dalam membenahi negeri. Jokowi menyingkirkan (secara tidak sengaja) mereka yang menggunakan rekayasa dan pencitraan dalam meraih kekuasaan.

Sepertinya, rakyat sekonyong-konyong mendapatkan seorang figur yang dicari-cari. Satrio piningit yang ada dalam dunia pewayangan seolah turun ke bumi. Mereka jatuh cinta mati atas apa yang dilakukan Jokowi. Persis dalam konsep orang Jawa: tumbu entuk tutup, atau dalam kata orang Amerika, the dream comes true.

Ketenaran Jokowi dalam khazanah literatur politik Indonesia sungguh sangat fenomenal. Pria yang sangat sederhana ini menjadi magnet keberpihakan masyarakat. Padahal, jujur saja, baru sedikit sekali berprestasi yang mampu ditorehkan. Di sisi lain, bapak berperawakan ceking itu tidak memoles dirinya dengan pencitraan. Bajunya sering kedodoran, jalannya tidak diatur, tutur katanya kadang tertata rapi dan diksinya-pun juga tidak bagus-bagus amat. Sangat diyakini, Jokowi tidak pandai ber-acting apalagi memiliki tim image building sehingga karya-karyanya terlihat agung di masyarakat.

Pria yang memiliki nama asli Joko Widodo ini pada galibnya hanya sekedar melakoni peran sesuai dengan jabatan yang diamanahkan kepadanya. Dengan kesungguhanya ia mencoba mengaplikasikan apa yang pernah dilakukannya di Solo, yakni blusukan untuk mendapatkan informasi yang sahih. Setelah itu dengan cara yang praktis (sederhana) ia akan carikan solusi yang tidak kolutif. Semua diabdikan untuk kepentingan publik. Di atas semua itu, Jokowi tidak takut ataupun khawatir terhadap jabatan selanjutnya. 'Egepe' apakah terpilih lagi atau tidak.

Karenanya, dalam merespon popularitasnya yang meroket, Jokowi juga tidak antusias. Menurutnya, ia hanya insan biasa dan tidak lebih dari lainnya. Jawaban-jawaban seperti inilah yang kini dirindukan oleh masyarakat. "Apalah saya ini. Orangnya kurus, jelek lagi. Makannya juga cuma tempe," katanya suatu saat. Kata-kata yang sangat magis di zaman sekarang.

Jokowi adalah the right man in the right time. Dalam jagad politik di tanah air, masyarakat Indonesia secara tidak sadar tengah mengalami kelelahan mengikuti sepak terjang beberapa partai politik dan politisi yang kadang mengutamakan rekayasa atau pencitraan. Meskipun reformasi telah bergulir lebih dari satu dasawarsa, namun hasilnya dirasakan masih saja kurang. Keterbukaan informasi kepada publik jua yang akhirnya membongkar bahwa inti dari pencitraan adalah sebuah kamuflase, kepura-puraan dan ketidaknyataan. Dunia acting rupanya hanya cocok untuk layar lebar tapi bukan yang tepat untuk servis publik.

Dalam terminologi agama, apa yang dilakukan oleh Jokowi itu disebut dengan ikhlas. Melakukan pekerjaan dengan sepenuh hati tanpa punya pamrih. Tidak peduli apa kata orang, selama yakin atas kebenaran maka akan diusahakan semaksimal mungkin. Selebihnya diserahkan kepada yang diatas.

Ikhlas adalah asas keberhasilan dan keberuntungan di dunia dan akhirat. Ikhlas ibarat pondasi bagi sebuah bangunan dan ibarat ruh bagi sebuah jasad, di mana sebuah bangunan tidak akan dapat berdiri kokoh tanpa pondasi, demikian juga jasad tidak akan dapat hidup tanpa ruh. Oleh karena itu, perbuatan yang kosong dari keikhlasan akan menjadikannya mati, tidak bernilai serta tidak membuahkan apa-apa.

Menurut ustad kondang Jeffri Al-Bukhori, ikhlas mempunyai banyak tanda dan ciri-ciri. Di antara tanda-tanda tersebut adalah: Pertama, orang yang ikhlas takut akan kemasyhuran dan sanjungan yang dapat membawa fitnah kepada diri sendiri. Kedua, senantiasa menganggap dirinya hina. Hatinya tidak boleh dimasuki oleh sifat takabur dan takjub terhadap diri sendiri.

Ketiga, lebih menyukai perbuatan kebaikan secara sembunyi-sembunyi daripada amalan yang dipenuhi dengan iklan dan irama kemasyhuran. Keempat, tidak bekerja semata-mata untuk mencari keuntungan atau mencapai kemenangan saja, namun juga karena pengabdian kepada YME. Kelima, senantiasa merasa gembira dengan adanya orang-orang yang mempunyai kemampuan melebihi dirinya. Ia bisa berbagi pekerjaan dan memberi peluang kepada siapa saja yang mampu untuk menggantikan posisinya tanpa merasa berat hati.

Itulah konsep ikhlas yang tetap relevan dan bersifat universal. Manakala rasa ikhlas dalam bekerja dikedepankan maka akan muncul sebuah kekuatan yang luar biasa. Tidak perlu iklan dan rekayasa, apresiasi tulus akan datang dengan sendirinya. Apresiasi yang sangat dahsyat itu akan diberikan oleh dua pihak: Tuhan dan manusia.


*)Penulis adalah pengamat sosial alumnus Pondok Modern Gontor, Jatim

(rmd/rmd)

Repost 0
Published by Admin - in TOKOH
write a comment
September 24 2012 2 24 /09 /September /2012 00:49
Minggu, 23/09/2012 03:12 WIB
Ferdinan - detikNews

Jakarta Pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama berjanji tidak akan menggunakan pengawalan polisi (voorijder), kecuali untuk hal mendesak. Bila ini dilakukan, Jokowi-Basuki dapat menekan anggaran khusus pengawalan pejabat Pemprov DKI.

Berdasarkan data yang dirilis Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) dari Perda APBD 2012, tercatat alokasi anggaran pengawalan (vooridjer) pada tahun 2012 mencapai Rp 610 juta. Anggaran itu mencakup alokasi untuk pengamanan dan pengawalan untuk tingkat wilayah kota.

Koordinator Advokasi dan Investigasi Seknas FITRA, Ucok Sky Khadafi menjelaskan, alokasi pengawalan dan pengamanan ini naik dari tahun 2011. "Alokasi anggaran pengamanan dan pengawalan dari tahun 2011 ke tahun 2012 mengalami kenaikan yang amat dratis sebesar Rp 410 juta," ujar Ucok, Minggu (23/9/2012).

Dalam beberapa kesempatan Jokowii mengatakan tidak akan menggunakan voorijder. Pasangannya Basuki juga demikian. Menurutnya saat pergi dan pulang kantor, voorijder tidak perlu digunakan. "Tapi kalau ada acara mendadak atau ada tamu pejabat ya kita pakai. Kalau tidak mendesak tidak dipakai," katanya.

Ucok mengapresiasi komitmen Jokowi-Basuki. Menurutnya langkah itu akan menghemat anggaran. "Bila Jokowi-Basuki hanya menggunakan voorijder untuk waktu dan keadaan yang mendesak misal rapat mendadak atau yang lainnya, otomatis penggunaan anggaran berkurang banyak. Ini bisa menghemat anggaran yang dialokasikan," tutur Ucok.

(fdn/fjp)

Repost 0
Published by Admin - in TOKOH
write a comment
June 1 2011 4 01 /06 /June /2011 23:25

 

Jenderal Polisi Drs. Hoegeng Iman Santoso merupakan salah satu putra terbaik yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Ia merupakan Kapolri ke-V yang dilantik pada 1 Mei 1968 menggantikan Panglima Angkatan Kepolisian Jenderal Polisi M. Ng. Soetjipto Joedodihardjo.


Hoegeng Iman Santoso merupakan putra sulung dari pasangan Soekario Kario Hatmodjo dan Oemi Kalsoem. Beliau lahir pada 14 Oktober 1921 di Kota Pekalongan. Meskipun berasal dari keluarga Priyayi (ayahnya merupakan pegawai atau amtenaar Pemerintah Hindia Belanda), namun perilaku Hoegeng kecil sama sekali tidak menunjukkan kesombongan, bahkan ia banyak bergaul dengan anak-anak dari lingkungan biasa. Hoegeng sama sekali tidak pernah mempermasalahkan ningrat atau tidaknya seseorang dalam bergaul.


Masa kecil Hoegeng diwarnai dengan kehidupan yang sederhana karena ayah Hoegeng tidak memiliki rumah dan tanah pribadi, karena itu ia seringkali berpindah-pindah rumah kontrakan. Hoegeng kecil juga dididik dalam keluarga yang menekankan kedisiplinan dalam segala hal. Hoegeng mengenyam pendidikan dasarnya pada usia enam tahun pada tahun 1927 di Hollandsch Inlandsche School (HIS). Tamat dari HIS pada tahun 1934, ia memasuki Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), yaitu pendidikan menengah setingkat SMP di Pekalongan.


Pada tahun 1937 setelah lulus MULO, ia melanjutkan pendidikan ke Algemeene Middlebare School (AMS) pendidikan setingkat SMA di Yogyakarta. Pada saat bersekolah di AMS, bakatnya dalam bidang bahasa sangatlah menonjol. Ia juga dikenal sebagai pribadi yang suka bicara dan bergaul dengan siapa saja tanpa sungkan-sungkan dengan tidak mempedulikan ras atau bangsa apa. Kemudian pada tahun 1940, saat usianya menginjak 19 tahun, ia memilih melanjutkan kuliahnya di Recht Hoge School (RHS) di Batavia.


Selama kepemimpinan Hoegeng, banyak hal terjadi dalam tubuh internal Kepolisian Republik Indonesia. Langkah pertama, Hoegeng melakukan pembenahan beberapa bidang yang menyangkut Struktur Organisasi di tingkat Mabes Polri. Hasilnya adalah struktur baru yang lebih dinamis dan komunikatif. Langkah kedua adalah perubahan nama pimpinan polisi dan markas besarnya. Berdasarkan Keppres No. 52 Tahun 1969, sebutan Angkatan Kepolisian Republik Indonesia (AKRI) diubah menjadi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Selain itu sebutan Panglima Angkatan Kepolisian RI (Pangak) diubah menjadi Kepala Kepolisian RI (Kapolri) dan nama Markas Besar Angkatan Kepolisian pun berubah menjadi Markas Besar Kepolisian.

Di bawah kepemimpinan Hoegeng pulalah peran serta Polri dalam peta organisasi Polisi Internasional, International Criminal Police Organization, semakin aktif. Hal tersebut ditandai dengan dibukanya sekretariat National Central Bureau (NCB) Interpol di Jakarta.


Pada masa kepemimpinan Hoegeng sebagai Kapolri, strategi kepolisian Indonesia yang tercermin pada masa itu adalah bahwa Kepolisian Republik Indonesia kembali ke fungsi pokok kepolisian, tidak mencampuri urusan angkatan lain di ABRI. Hoegeng juga menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pemisahan Angkatan Kepolisian dari ABRI. Ia juga meminta agar angkatan lain tidak ikut campur tangan dalam urusan Kepolisian Indonesia. Peristiwa ini menjadi tonggak sejarah bahwa Kepolisian Indonesia “kembali kepada fungsinya”.


Jujur dan Amanah
Kapolri di tahun 1968-1971 ini, juga pernah menjadi Kepala Imigrasi (1960), dan juga pernah menjabat sebagai menteri di jajaran kabinet era Soekarno. Kedisiplinan dan kejujuran selalu menjadi simbol Hoegeng dalam menjalankan tugasnya dimana pun. salah satu bentuk kejujuran beliau antara lain:

Misalnya, ia pernah menolak hadiah rumah dan berbagai isinya saat menjalankan tugas sebagai Kepala Direktorat Reskrim Polda Sumatera Utara tahun 1956. Ketika itu, Hoegeng dan keluarganya lebih memilih tinggal di hotel dan hanya mau pindah ke rumah dinas, jika isinya hanya benar-benar barang inventaris kantor saja.


Semua barang-barang luks pemberian itu akhirnya ditaruh Hoegeng dan anak buahnya di pinggir jalan saja. “Kami tak tahu dari siapa barang-barang itu, karena kami baru datang dan belum mengenal siapapun,” kata Merry Roeslani, istri Hoegeng.


Polisi Kelahiran Pekalongan tahun 1921 ini, sangat gigih dalam menjalankan tugas. Ia bahkan kadang menyamar dalam beberapa penyelidikan. Kasus-kasus besar yang pernah ia tangani antara lain, kasus pemerkosaan Sum tukang jamu gendong atau dikenal dengan kasus Sum Kuning, yang melibatkan anak pejabat. Ia juga pernah membongkar kasus penyelundupan mobil yang dilakukan Robby Tjahjadi, yang notabene dekat dengan keluarga Cendana. Kasus inilah yang kemudian santer diduga sebagai penyebab pencopotan Hoegeng oleh Soeharto.


Hoegeng dipensiunkan oleh Presiden Soeharto pada usia 49 tahun, di saat ia sedang melakukan pembersihan di jajaran kepolisian. Kabar pencopotan itu diterima Hoegeng secara mendadak. Kemudian Hoegeng ditawarkan Soeharto untuk menjadi duta besar di sebuah Negara di Eropa, namun ia menolak. Alasannya karena ia seorang polisi dan bukan politisi.


“Begitu dipensiunkan, Bapak kemudian mengabarkan pada ibunya. Dan ibunya hanya berpesan, selesaikan tugas dengan kejujuran. Karena kita masih bisa makan nasi dengan garam,” ujar Roelani. “Dan kata-kata itulah yang menguatkan saya,” tambahnya.

Hoegeng memang seorang yang sederhana, ia mengajarkan pada istri dan anak-anaknya arti disiplin dan kejujuran. Semua keluarga dilarang untuk menggunakan berbagai fasilitas sebagai anak seorang Kapolri. “Bahkan anak-anak tak berani untuk meminta sebuah sepeda pun,” kata Merry.


Putra Hoegeng menceritakan pengalaman berharga mereka ketika menjadi seorang anak pejabat. Ia bercerita, ketika sebuah perusahaan motor merek Lambretta mengirimkan dua buah motor, sang ayah segera meminta ajudannya untuk mengembalikan barang pemberian itu. “Padahal saya yang waktu itu masih muda sangat menginginkannya,” kenang putranya yang bernama Didit.


Saking jujurnya, Hoegeng baru memiliki rumah saat memasuki masa pensiun. Atas kebaikan Kapolri penggantinya, rumah dinas di kawasan Menteng Jakarta pusat pun menjadi milik keluarga Hoegeng. Tentu saja, mereka mengisi rumah itu, setelah seluruh perabot inventaris kantor ia kembalikan semuanya.


Memasuki masa pensiun, Hoegeng menghabiskan waktu dengan menekuni hobinya sejak remaja, yakni melukis. Lukisan itu lah yang kemudian menjadi sumber Hoegeng untuk membiayai keluarga. Perlu anda ketahui, pensiunan Hoegeng hingga tahun 2001 hanya sebesar Rp 10.000 saja, itu pun hanya diterima sebesar Rp.7500. Walaupun pada akhirnya ada perubahan gaji pensiunan dari Rp. 10.000 ditetapkan menjadi Rp 1.170.000 hingga akirnya beliau wafat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Rabu 14 Juli 2004 pukul 00.30.


Hoegeng, sebuah permata indah yang berusaha bersinar dalam kegelapan. Namun tak kuasa melawan hingga akhirnya harus redup dan meninggalkan kegelapan merajalela di bumi Indonesia. Hoegeng adalah contoh bahwa masih ada kejujuran dalam hati setiap bangsa Indonesia. Jangan takut untuk menjadi pribadi yang jujur, meskipun kita harus terbuang dan tersingkir. Biarlah satu Hoegeng dapat membangkitkan jutaan Hoegeng lagi, demi bangsa yang menjunjung tinggi kejujuran.


Hoegeng wafat dalam usia 83 tahun. Ia meninggal karena penyakit stroke dan jantung yang dideritanya. Kepergiannya menyisakan kesedihan yang mendalam, karena Bangsa Indonesia kehilangan salah satu putra terbaik bangsanya yang terkenal akan kejujuran dan konsistensinya. Kabarnet- [MMpolri/KN]

Repost 0
Published by Admin - in TOKOH
write a comment
May 9 2011 2 09 /05 /May /2011 22:47

Oleh Rizal Ramli

Redaksi: Tokoh nasional sekaligus tokoh oposisi Dr  Rizal Ramli mengingatkan publik pada tokoh oposisi Malaysia DR Anwar Ibrahim, mantan Deputi PM Malaysia. Dalam kerangka kontrol demokratis  ini, Rizal  Ramli melakukan upgrade Rumah Perubahan di Jakarta, Senin ini (9/5/11). Dalam konteks itulah, sebagian pidato kebudayaan Rizal Ramli di TIM, Jakarta pekan lalu, dimuat redaksi sebagai refleksi bagi pembaca yang budiman.


JAKARTA,RIMANEWS- Makin jelas bahwa sendi-sendi kehidupan bernegara di bawah pemerintahan SBY-Boediono semakin lama semakin lemah dan keropos. Kerusakan itu tercermin terutama di dalam bidang hukum dan ekonomi. Mafia hukum semakin merajalela, terutama karena tokoh-tokoh mafia hukum ternyata juga adalah para pejabat di kejaksaan, kepolisian dan lembaga peradilan. Akibatnya pisau hukum hanya tajam terhadap rakyat biasa, tetapi menjadi sangat tumpul terhadap kalangan elit yang memiliki uang dan kekuasaan.


Ekonomi nasional yang tumbuh sedang-sedang saja (+ 6%) tidak mampu menciptakan lapangan pekerjaan, sehingga kesejahteraan rakyat semakin terpuruk. Sekitar kurang dari 20% penduduk yang paling atas memang hidup lumayan. Bisa menikmati arti kemerdekaan. Tetapi 80% sisanya belum pernah menikmati kemerdekaan.


Ketika pekerjaan nyaris tidak ada dan pendapatan mayoritas rakyat sangat rendah, kenaikan harga pangan dan harga kebutuhan pokok selama hampir setahun terakhir telah mengakibatkan kenaikan jumlah penduduk miskin[1]) dan kemerosotan kehidupan. Kebijakan ekonomi neoliberal yang dijalankan oleh pemerintahan SBY-Boediono sudah terbukti di seluruh dunia tidak mampu meningkatkan kesejahteraan mayoritas rakyat, kecuali meningkatkan kemakmuran sebagian kecil elit di beberapa negara berkembang.


Yang lebih penting lagi kebijakan ekonomi neoliberal itu merupakan pengkhianatan terhadap konstitusi, seperti yang dirumuskan oleh para pendiri Republik Indonesia. Kemiskinan struktural, yang disebabkan oleh kebijakan ekonomi neoliberal, telah memicu peningkatan kejahatan, ladang subur kekerasan sosial, meningkatkan rasa putus asa dan tindakan bunuh diri. Kemiskinan juga memicu radikalisme, serta mempertajam konflik sosial dan agama.


Kerusakan dan kemerosotan yang terjadi di bidang hukum, kesejahteraan rakyat dan kehidupan sosial yang sedang terjadi sekarang ini, harus segera dihentikan. Kasus mafia pajak yang melibatkan pegawai pajak Gol III-A Gayus Tambunan yang berlarut-larut, tidak adanya tindakan terhadap “gayus-gayus” lain dan pejabat tinggi di Direktorat Jenderal Pajak serta Departemen Keuangan, merupakan contoh nyata dari lemahnnya kepemimpinan nasional. Padahal berlarut-larutnya penanganan kasus mafia hukum dan mafia pajak akan memberikan kesempatan kepada calon-calon terdakwa untuk menghilangkan barang bukti.


Di bidang ekonomi, kebijakan yang dilakukan pemerintahan SBY-Boediono telah memperparah kondisi perekonomian nasional yang berdampak meningkatnya kemiskinan, pengangguran dan kian lebarnya kesenjangan ekonomi. Ketidakmampuan pemerintah melindungi hak-hak dasar warga negara, dalam bidang kesejahteraan dan agama[2], telah merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.


Dengan kelemahan kepemimpinan SBY-Boediono, mengakibatkan berbagai masalah hukum, kesejahteraan rakyat, dan perlindungan hak-hak warga negara menjadi semakin parah. Lemahnya kepemimpinan nasional tersebut selain akibat karakter keduanya yang memang lemah, juga kenyataan bahwa sejak terpilih kembali dalam Pilpres 2009-2014 yang penuh kontroversi, SBY-Boediono telah menjadi bagian dari masalah, bukan bagian dari solusi.

Oleh sebab itu, ketika sejak hari pertama periode kedua kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono sudah dibombardir oleh berbagai skandal (rekayasa bailout Bank Century, IT KPU dan DPT yang cacat berat), membuat rakyat semakin tidak memiliki harapan sehingga membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara. Penggunaan cara-cara Orde Baru (Orba), cara-cara militer yang brutal dan melanggar HAM di Papua, justru akan memperdalam luka dan perlawanan. Akan tetapi, membiarkan kelemahan kepemimpinan seperti ini, yang telah menimbulkan kemerosotan, demoralisasi dan anomali di segala bidang, adalah tindakan yang tidak bertanggungjawab, sama dengan membiarkan Indonesia menjadi negara gagal karena mengabaikan tumbuhnya berbagai benih perpecahan di dalam tubuh NKRI.


Kita masih ingat Presiden Uni Sovyet Mikhail Gorbachev. Dia adalah pemimpin yang sangat santun, dipuji-puji oleh negara-negara Barat dan bahkan mendapat Hadiah Nobel dalam Bidang Perdamaian (1990). Tetapi kepemimpinannya yang sangat lemah membuat Uni Sovyet kacau dan berantakan. Perekonomian merosot tajam, tingkat pengangguran meningkat sangat tinggi, dan daya beli rakyatnya anjlok.


Kelemahan kepemimpinan Gorbachev itu terbukti menjadi salah satu penyebab utama runtuhnya negara adikuasa Uni Soviet (1991) yang kini tinggal tersisa hanya Rusia. Kita semua tidak ingin Indonesia semakin merosot dan mengalami disintegrasi seperti Uni Soviet. Kelemahan kepemimpinan dan ketidakmampuan SBY-Boediono mengemban amanat rakyat, melaksanakan konstitusi, harus dijadikan alasan utama untuk mempercepat perubahan politik di negara yang kita cintai: Republik Indonesia.

Demokrasi memang merupakan jalan paling ideal untuk melahirkan perubahan. Tapi demokrasi yang bisa melahirkan perubahan dan bermanfaat untuk rakyat adalah demokrasi yang baik dan benar. Sedangkan model demokrasi yang saat ini berlangsung di negara kita adalah “demokrasi kriminal”, demokrasi yang telah dibajak oleh kekuatan uang dan oligarki, sehingga tidak akan memberi manfaat untuk mayoritas rakyat. Demokrasi kriminal hanya meningkatkan kesejahteraan para pejabat negara, baik di eksekutif legislatif maupun yudikatif.


Anggaran belanja pegawai meningkat hampir empat kali dari Rp54 triliun tahun 2005 menjadi Rp181 triliun pada 2011. Biaya perjalanan untuk pejabat pemerintah dan DPR mencapai Rp19,5 trilliun[3] atau 4 kali lebih besar dari Jaminan Nasional Kesehatan pada APBN 2010. Dengan pemborosan seperti itu, pemerintah SBY-Boediono mengaku tidak memiliki uang untuk menyelenggarakan Sistem Jaminan Sosial Nasional[4] yang akan memberikan jaminan kesehatan dan pengangguran untuk pekerja.


Dengan kenaikan belanja pegawai yang sangat besar tersebut, birokrasi justru semakin korup dan semakin tidak bertanggungjawab. Program remunerasi yang digembar-gemborkan akan berdampak meningkatkan kinerja birokrasi, tidak lain dan tidak bukan hanya sekedar program kenaikan gaji tanpa diikuti oleh kenaikan kinerja maupun akuntabilitas jajaran birokrasi kita. Proses birokratisasi sengaja dibikin berbelit-belit supaya rakyat dan pengusaha bisa diperas, dan agar sistem pertanggungjawaban semakin tidak jelas.


Indonesia tidak mungkin menjadi negara besar dengan rakyat hidup makmur tanpa adanya reformasi birokrasi secara total. Sebab dalam prakteknya, birokrasi lebih sering menjadi bagian dari masalah, dan bukan solusi.


Demokrasi kriminal juga memungkinkan terjadinya pembiaran kejahatan pemilu berlangsung dari hulu sampai hilir, dari PPS sampai KPU Pusat. Berbeda dengan Pemilu-pemilu sebelumnya, pada pemilu lalu tidak ada satu pun kasus Pemilu[5] signifikan yang diproses oleh Kepolisisan Republik Indonesia. Kebijakan itu sengaja dirancang oleh kekuasaan dan kepolisian. Hukum dan ekonomi dirancang untuk saling melindungi kepentingan elit politik. Kepemimpinan SBY-Boediono yang lemah semakin mendorong berkembangnya demokrasi kriminal sehingga terjadi politik saling menyandera di kalangan elit politik.


Dalam konteks demokrasi kriminal dan kelemahan kepemimpinan yang fatal, perubahan politik harus dilakukan sekarang juga untuk mencegah kerusakan dan kemerosotan yang lebih parah lagi. Perubahan adalah solusi dari perangkap demokrasi kriminal, pemerintahan lemah dan bermasalah. Perubahan politik itu merupakan upaya untuk membuat demokrasi sungguh-sungguh bekerja untuk kepentingan rakyat, bukan demokrasi kriminal yang hanya menguntungkan kepentingan sekelompok kecil elit.


Oleh karena itu perubahan politik harus dilakukan segera. Proses perubahan politik tersebut bukanlah upaya kudeta ataupun makar, karena perubahan yang dilakukan sepenuhnya diharapkan dan didukung oleh kekuatan sipil dengan cara-cara damai, tanpa kekerasan dan tetap berlandaskan substansi demokrasi. Makar dan kudeta hanya dapat dilakukan oleh kekuatan bersenjata atau militer dengan cara kekerasan bersenjata. Pemerintaham SBY-Boediono, lewat menteri-menterinya, sering melontarkan istilah “makar dan kudeta” untuk menakut-nakuti kekuatan rakyat demokratis


Catatan:

[1]) Standar kemiskinan pemerintah RI adalah Rp 211.726,oo/bulan atau Rp 7057,oo/hari (US$ 0,78/hari), atau hanya cukup untuk satu bungkus nasi dengan lauk sederhana. Tidak cukup untuk kehidupan yang manusiawi, apalagi jika diperhitungkan biaya perumahan, kesehatan dan pendidikan. Dengan standar yang sangat tidak manusiawi tersebut, jumlah orang miskin mencapai 31 juta orang (2010). Jika digunakan standar kemiskinan internasional yang US$ 2/hari (Rp 18.000,oo/hari), maka jumlah penduduk miskin di negara kita akan naik tiga kali lipat angka kemiskinan versi pemerintah.
[2] Kasus kekerasan agama di Cikeusik, Pandeglang, Banten (6/2) dan Temanggung, Jawa Tengah (9/2).
[3] Dengan uang sebesar Rp 19,5 triliun tersebut (US$ 2,1 miliar) per tahun, Indonesia bisa membuat perusahaan penerbangan baru setiap tahun.
[4] Baca: “Rizal Ramli : Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) Mendesak Segera Dilaksanakan”, http://www.rimanews.com/read/20101205/8172/rizal-ramli-sistem-jaminan-so...
[5] Pemilu 2009 menghabiskan biaya Rp 21,93 triliun atau 3 kali lebih besar dari biaya Pemilu 2004, dengan kualitas amburadul dan banyak manipulasi daftar pemilih tetap (DPT), lebih buruk dari Pemilu 1995 dan 1999.


Perubahan Harus Dilakukan

Perubahan harus segera dilakukan untuk menghentikan demokrasi kriminal dan membuat demokrasi betul-betul bekerja untuk kepentingan rakyat. Perubahan juga diperlukan untuk mengubah kepemimpinan nasional yang lemah dan bermasalah dengan kepemimpinan nasional yang efektif [1] dan sungguh-sungguh menegakkan konstitusi, baik dalam bidang politik, hukum, ekonomi maupun sosial.


Penegakkan hukum akan dilakukan tanpa tebang pilih, sehingga setiap warganegara akan diperlakukan sama di hadapan undang-undang. Agar sistem demokrasi sungguh-sungguh bekerja untuk kepentingan rakyat, dan tidak dibajak oleh kekuatan uang, maka perlu dilakukan reformasi pembiayaan partai politik. Seperti halnya di Jerman dan Australia, partai-partai politik akan dibiayai oleh APBN dengan perkiraaan biaya maksimum Rp 0,5 triliun/tahun. Angka tersebut sangat kecil dibandingkan dengan total APBN yang mencapai Rp 1.200 triliun, dan dibandingkan dengan kerugian dan kerusakan yang ditimbulkan akibat sistem demokrasi kriminal.


Sebagai prasyarat untuk mendapatkan biaya tersebut, partai-partai politik harus bersedia diaudit (termasuk audit investigatif), turut serta menciptakan clean government dan good governance, dengan cara hanya boleh mengajukan calon legislatif dan eksekutif yang memiliki integritas, kepemimpinan dan track record yang baik. Integritas, kepemimpinan dan track record harus menjadi kriteria utama kaderisasi di partai-partai politik.


Perubahan juga akan dilakukan dalam bidang ekonomi. Kebijakan ekonomi neoliberal yang sudah berjalan lebih dari 40 tahun, yang tidak berpihak kepada rakyat dan kepentingan nasional, akan digantikan dengan sistem ekonomi berbasis konstitusi UUD 1945, yaitu sistem ekonomi yang lebih berpihak kepada rakyat (ekonomi domestik) dan kepentingan nasional.


Prioritas utama akan diarahkan untuk menciptakan kemandirian dalam bidang pangan, penciptaan lapangan kerja, peningkatan kesejahteraan rakyat (melalui pengembangan karakter dan pendidikan), pembangunan infrastruktur, maksimalisasi nilai tambah di sektor pertanian, perikanan, peternakan, industri, pertambangan dan sumberdaya alam lainnya.


Sumber daya alam akan dikelola dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. Negara akan memainkan peranan yang proaktif untuk mempercepat pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Percepatan tersebut juga dimaksudkan agar Indonesia dapat segera mengejar ketinggalannya dari negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. Dengan sumber daya alam yang luar biasa, penduduk yang besar dan posisi geografis yang sangat strategis, Indonesia akan bisa menjadi salah satu negara besar yang sejahtera dan kuat di kawasan Asia.


Peranan pemerintah yang proaktif untuk mempercepat pembangunan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan hanya mungkin dilakukan jika diikuti dengan reformasi birokrasi total, termasuk di antaranya penyederhanaan proses birokratif, sistem rekruitmen dan promosi yang kompetitif, sistem insentif berdasarkan kinerja, penegakkan transparansi dan akuntabilitas.


Jika reformasi total tersebut dilakukan, penghematan anggaran dapat mencapai 30 persen dan penerimaan negara bisa naik sampai 30 persen. Sehingga tersedia dalam jumlah yang cukup anggaran untuk program-program peningkatan kesejahteraan rakyat. (Bersambung)


Catatan:
[1] Kepemimpinan efektif dan transformatif dalam konteks negara demokratis, bukan kepemimpinan kuat dalam konteks otoriter. Kepemimpinan efektif dan transformatif mencakup kepemimpinan visi dan operasional.


Mengingkari Konstitusi


Pemimopin yang mengingkari konstitusi karena ketidakmampuannya dalam menegakkan prinsip negara hukum, tidak mengambil tindakan terhadap berbagai kejahatan kerah putih seperti skandal rekayasa bailout Bank Century[1], mafia hukum dan skandal restitusi pajak, menjalankan kebijakan ekonomi neoliberal yang bertentangan dengan konstitusi, dan tidak mampu menjamin hak-hak dasar warga negara dalam bidang kesejahteraan dan kenyamanan beragama sudah waktunya mengakhiri masa jabatannya.


Krisis kepercayaan yang semakin meluas, kesulitan hidup rakyat yang semakin berat dan pembiaran berkembangnya demokrasi kriminal merupakan faktor-faktor pendukung percepatan perubahan.


Indonesia merupakan negara pertama yang merdeka setelah berakhirnya Perang Dunia II pada 1945. Setelah Indonesia merdeka barulah negara-negara Asia Pasifik dan Afrika lainnya menyatakan kemerdekaannya, seperti India (1947), China (1949), Mesir (1953), Sudan (1956), Aljazair (1962), dll. Dengan semangat kemerdekaan dan nasionalisme yang kuat, Indonesia menjadi salah satu pioner konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955, yang memberikan inspirasi dan mendorong negara-negara berkembang lainnya untuk segera menyatakan kemerdekaannya dari kolonialisme.


Pada 1998, Indonesia juga memberikan contoh kepada dunia bagaimana melakukan transisi dari rezim otoriter menjadi negara demokratis. Proses transisi seperti dilakukan bangsa Indonesia pada 1998 kini sedang berlangsung di Tunisia, Mesir dan Yaman, dan beberapa negara di kawasan Timur Tengah lainnya. Dalam perubahan politik, Indonesia memang tidak pernah mengimpor pengalaman dari negara lain, tetapi justru sebaliknya, menjadi pionir dan menjadi contoh bagi negara-negara lainnya.


Sekarang Indonesia kembali menunjukkan kepada dunia bahwa demokrasi prosedural dan kriminal, yang banyak terjadi di sejumlah negara berkembang, ternyata gagal meningkatkan kesejahteraan rakyat dan gagal membawa kejayaan dan kemakmuran bagi bangsanya.


Dalam konteks ini, Indonesia harus kembali memberikan contoh bagaimana mengubah “demokrasi prosedural yang cenderung kriminal” menjadi sistem demokrasi yang sungguh-sungguh bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, sehingga Indonesia menjadi salah satu negara besar di Asia.


Beberapa negara di Asia memang ada yang berhasil mencapai tujuan (kesejahteraan) tersebut melalui sistem dan cara-cara yang tidak demokratis. Tapi itu bukan jalan yang dicita-citakan para founding father kita. Oleh sebab itu, jika kita berhasil melakukan perubahan demokrasi ke arah yang lebih baik tersebut terjadi, maka Indonesia kembali akan memberikan contoh kepada negara-negara Dunia Ketiga bahwa demokrasi ternyata mampu meningkatkan kesejahteraan (rakyat) dan kejayaan bangsa Indonesia.


Perubahan politik dari otoriter ke demokratis di Indonesia pada 1998 dan di Mesir baru-baru ini relatif sulit dan alot karena Presiden Soeharto dan Presiden Mubarak telah berkuasa lebih dari 30 tahun, didukung sepenuhnya oleh militer, jaringan intelijen dan partai berkuasa yang telah menggurita. Jika dibandingkan dengan Presiden Soeharto maupun Presiden Mubarak, Pemerintahan SBY-Boediono sangat lemah dan sama sekali tidak memiliki akar sosiologis yang kuat.

Pemerintahan saat ini bagaikan “Rumah Pasir” yang direkat oleh lem pencitraan. Sekarang lem pencitraan itu telah meleleh setelah diberi “cap kebohongan” oleh para pemuka agama, kalangan intelektual, tokoh pergerakan, kaum buruh/pekerja, pemuda dan mahasiswa. Dengan demikian, akhir dari Orde Citra[2] tinggal menunggu waktu. Rumah pasir itu akan roboh dengan sendirinya. Dan tidak akan meninggalkan persoalan krusial, apalagi ideologis.


Di atas reruntuhan rumah pasir itulah kita bangun rumah Indonesia yang kokoh, dengan fondasi konstitusi yang kuat[3], sehingga membuat seluruh penghuninya merasa nyaman, sehat, punya pekerjaan, sehingga mampu menyekolahkan anak-anaknya. Jika sakit akan sanggup berobat ke dokter atau rumah sakit. Hanya dengan cara demikian bangsa Indonesia akan dihormati oleh bangsa-bangsa lain di dunia.

Repost 0
Published by Admin - in TOKOH
write a comment
December 23 2010 5 23 /12 /December /2010 00:47

Selasa, 21/12/2010 15:23 WIB

Fajar Pratama - detikNews

Jakarta - Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2006 tentang Protokoler Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Busyro Muqoddas akan dibekali senjata untuk keamanan. Di samping itu total penghasilan kotor Busyro sekitar Rp 70 juta per bulan.


“Semua dijelaskan dalam peraturan tersebut,” kata Sekretaris Jenderal KPK Bambang
Sapto Pratomosunu kepada wartawan di Kantor KPK, Jl HR Rasuna Said, Jakarta, Selasa (21/12/2010). Hal ini dikatakan Bambang saat ditanyai, apa saja yang menjadi hak Busyro selama jadi ketua KPK.

Secara keseluruhan, persisnya Busyro akan mengantongi Rp 70,225 juta per bulan. Rinciannya, gaji pokok Rp 5,04 juta, tunjangan jabatan Rp 15,12 juta, dan tunjangan kehormatan Rp 1,46 juta.

Busyro juga berhak mendapat tunjangan fasilitas setiap bulannya. Tunjangan yang dimaksud meliputi tunjangan perumahan Rp 23 juta, tunjangan transportasi Rp 18 juta, tunjangan asuransi kesehatan dan jiwa Rp 2,2 juta, dan tunjangan hari tua Rp 5,405 juta.

Akan tetapi jumlah itu masih penghasilan kotor atau belum dikurangi pajak. Sehingga, bila sudah dikurangi pajak, gaji bersih pimpinan KPK tinggal sekitar Rp 40-50 juta.

Selain itu, sesuai dengan pasal 12 PP No 29/2009, Busyro selaku ketua KPK mendapat pengawalan, persenjataan dan perlindungan terhadap keluarganya. Berdasarkan informasi yang dihimpun, Busyro dibekali pistol jenis walther sebagaimana pimpinan KPK yang lain.

(fjr/gun)

  Baca Juga :

Repost 0
Published by Admin - in TOKOH
write a comment
November 30 2010 3 30 /11 /November /2010 23:14

Senin, 29/11/2010 19:08 WIB

Nurvita Indarini - detikNews


Jakarta - Toleransinya dengan umat agama lain tidak perlu diragukan. Di sepanjang perjalanannya, Ahmad Syafii Maarif memang konsisten memperjuangkan toleransi dan kerjasama lintas agama. Habibie award 2010 pun diberikan sebagai bentuk penghargaan atas perjuangannya.

"Kami sangat menghargai pengakuan Dewan Juri terhadap komitmen dan perjuangan Buya Syafii Maarif," kata Direktur Eksekutif Maarif Institute, Fajar Riza Ul Haq, dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Senin (29/11/2010).

Habibie Award tahun ini memang agak berbeda lantaran memberikan award untuk bidang khusus, yaitu Bidang Harmonisasi Kehidupan Beragama. Bersama dengan Franz Magnis Suseno, Syafii dinilai pantas mendapatkan penghargaan tersebut lantaran telah memberikan kontribusi bagi penciptaan kerukunan umat beragama di Indonesia.

Syafii dianggap berhasil dalam memadukan filsafat, agama, kebudayaan, dan kemanusiaan sebagai spirit membangun harmoni bangsa.

"Kehadiran Buya Syafii dalam jajaran Habibie Award ini tidak hanya mengokohkan pengakuan publik terhadap Pendiri Maarif Institute ini namun juga semakin menegaskan pentingnya merawat harmoni di tengah ancaman terhadap pluralisme," ucap Fajar.

Habibie Award 2010 rencananya diberikan secara resmi Selasa (30/11) besok di Jakarta. Wakil Presiden Boediono dijadwalkan hadir dalam acara penganugerahan tersebut.

Sebelumnya, yakni pada 2008 lalu, Syafii juga pernah menerima Ramon Magsaysay Award atas kontribusinya mendiseminasikan toleransi dan pluralisme di kalangan masyarakat Muslim. Penghargaan lainnya adalah Hamengkubuwono IX Award (2000) untuk kategori multikulturalisme dan Mpu Peradah (2009) untuk pluralisme.

Syafii dilahirkan di Sumpurkudus, Sumatera Barat, pada 31 Mei 1935. Pria ini pernah menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah 1999-2004. Syafii dikenal sebagai ilmuwan yang kritis, tegas dan bersahaja.

(vit/lrn)

Repost 0
Published by Admin - in TOKOH
write a comment
October 3 2010 1 03 /10 /October /2010 00:45

Kisah/riwayat hidup Wakil Ketua KPK nonaktif Bibit Samad Riyanto cukup berliku. Berawal dari keluarga yang kurang mampu, Bibit akhirnya menjadi seorang jenderal di kepolisian hingga menjadi pimpinan KPK.

Bibit Rianto

Wakil Ketua KPK Non-aktif Bibit Samad Rianto bersama Chandra M Hamzah menjadi perhatian jutaan rakyat Indonesia ketika mereka ditahan oleh Bareskrim Mabes Polri. Sebelumnya mereka dijadikan disidik dengan dugaan pelanggaran yang berubah-ubah, dari penyadapan, suap, hingga kewenangan dan  pemerasan. Mereka berdua ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Brimob Kelapa Dua Depok, tempat tahanan yang selama ini banyak dihuni oleh tahanan titipan KPK dan para teroris.


Penahanan Bibit dan Chandra di Rutan BKD merupakan pesan psikologis terbalasnya dendam pada pimpinan KPK yang selama ini menangkap dan menahan para tersangka koruptor di Rutan ini. Diantaranya adalah petinggi di Kepolisian dan Kejaksaan. Sebut saja Mantan Jend Polisi (Purn) Rusdihardjo dalam kasus pungli TKI/TKW di Kedubes Malaysia, Jaksa Urip Tri Gunawan dalam kasus penyuapan Artalyta Suryani (SP3 kasus Syamsul Nursalim), serta Aulia Pohan dalam kasus aliran suap Yayasan BI Rp 100 miliar.


Pada tanggal 30 Oktober 2009, Bibit bersama Chandra dipindahkan ke Rutan BKD, dan Bibit meringkuk dalam sel tahanan bekas Jenderal Pol. (Purn) Rusdihardjo dan Mayjen Muchdi PR. Saat ini, Rusdihardjo dan Muchdi sudah menghirup udara segar alias bebas dari penjara.

Bibit Samad Rianto, Kuli Tenun Jadi Polisi

Irjen (Purn) Dr. Bibid Samad Rianto, MM lahir pada 3 November 1945 di Kediri – Jawa Timur. Hidup di keluarga sederhana, Bibit kecil lebih banyak menghabiskan waktu di pasar mendampingin ibunya yang jadi tukang jahit.  Lingkungan pasar membuat Bibit kecil sering berkelahi dan menjadi layaknya “preman” pasar.


Perjalanan hidup Wakil Ketua KPK nonaktif Bibit Samad Rianto ini cukup berliku. Berawal dari keluarga yang kurang mampu, Bibit akhirnya menjadi seorang jenderal di kepolisian hingga menjadi pimpinan KPK. Karena kondisi ekonomi, orang tua Bibit hanya mampu membiayai beliau sampai SMP saja. Sehingga untuk melanjutkan pendidikan SMA, Bibit mencari uang sendiri dengan menjadi kuli tenun. Sehabis menyelesaikan  pendidikan SMA di tanah kelahirannya, Bibit kemudian memilih untuk bergabung di Akademi Kepolisian (Akpol) dan lulus pada 1970. Alasan utama Bibit memilih Akpol karena bisa menjadi perwira dan penghasilan seorang perwira pada saat itu lumayan cukup. Selain alasan ekonomi tersebut, Bibit bercita-cita menjadi penegak hukum yang baik sesuai dengan fungsinya untuk masyarakat.


Setelah lulus dari Akpol, Bibit langsung mengabdikan dirinya selama 30 tahun di kepolisian. Berbagai posisi teritorial pernah diembannya, di antaranya Kapolres Jakarta Utara, Kapolres Jakarta Pusat, Wakapolda Jawa Timur, dan Kapolda Kalimantan Timur. Bibit pensiun dari kepolisian pada 15 Juli 2000 dengan pangkat terakhir Inspektur Jenderal. Atas jasa dan pengabdiannya selama bertugas, beliau mendapatkan berbagai bintang jasa dan penghargaan. Di antaranya: Satya Lencana Kesetiaan, Satya Lencana Dwidya Sista, Bintang Bhayangkara Nararya, Bintang Yudha Dharma Nararya, Bintang Bhayangkara Pratama.


Bibit merupakan pelaku ‘monogami’ yang hanya memperistrikan Sugiharti, seorang perawat asal Jawa Tengah. Pernikahan Bibit dan Sugiharti membuah 4 buah hati yakni Yudi Prianto, Bayu, Endah Sintalaras, dan Rini Wulandari. Semua anaknya kini sudah berkeluarga. Dua di antaranya meniti karir yang sama dengan bapaknya yakni menjadi polisi. Salah seorang anaknya, AKP Bayu Suseno saat ini menjadi Kapolsek Pagedangan, Tangerang.


Enam tahun menjelang pensiun di kepolisian, Bibit mempersiapkan dirinya alih profesi jadi guru.  Keinginan menjadi guru merupakan buah dari pesan almarhumah ibunya agar Bibit menjadi guru. Bibit menamatkan studi hingga S3 dan mendapat gelar Doktor. Pesan ibunya tercapai, Bibit pernah mengajar di Universitas Bina Nusantara selama 4 tahun, jadi rektor Universitas Bhayangkara 3 tahun.  Beliau juga pernah mengajar di UNJ (Universitas Negeri Jakarta) dan bekas kampusnya  di PTIK.

Bibit Samad Rianto : Kapolda yang “Lulus Godaan” Suap Puluhan Miliaran Rupiah

Meskipun merupakan alumni dari salah satu lembaga yang memiliki tingkat kepercayaan publik yang buruk  seperti terkorup di Indonesia tahun 2008, Irjen Polisi (Purn) Bibit Samad Rianto mungkin sekelompok jenderal polisi yang masuk pengecualian publik seperti halnya Irjen Pol (Purn) Herman SS (Eks. Kapolda Jatim) dan Irjen Sutjiptadi (mantan Kapolda Riau).  Sejak proses pemilihan pimpinan KPK 2007-2011, sosok dan integritas Bibit Samad Rianto bersama Chandra M Hamzah  selalu terbaik, bahkan melewati Antasari Azhar. Hal itu diungkapkan oleh mantan anggota panitia seleksi pimpinan KPK tahun 2007 Mas Ahmad Santosa pada tanggal 16 September 2009. Catatan: Mas Achmad Santosa diangkat menjadi Wakil Ketua Sementara (Plt) KPK pada 6 Oktober 2009.

“Chandra dan Bibit yang paling baik mewakili unsur-unsur mereka, tidak seperti Antasari yang kontroversial…”
Berdasarkan hasil penelusuran tim investigasi pansel saat itu, Bibit adalah perwakilan Kepolisian yang paling bersih. Pengalamannya sebagai anggota Kepolisian ditunjang dengan kemampuan ilmiah sebagai Rektor Universitas Bhayangkara.
Dia (Bibit) lebih ke dunia ilmiah, ilmu soal investigasi tindak pidana, jadi lebih bersih,” ungkap Mas Achmad Santosa pada 16 September 2009 pada Detiknews

Selama menjadi Kapolda Kalimantan Timur di penghujung tahun 1990-an, Bibit dikenal tegas terhadap kasus illegal logging. Selama itupula ia sering digoda suap menyuap oleh para cukong kayu. Kala itu ia pernah ditawari uang suap puluhan miliar. Tapi tegas-tegas Bibit menolak suap tersebut. Bibit ‘lulus dari godaan’ suap.


Bibit setidaknya berhasil menangani 234 kasus ilegal logging. Bibit mengaku bahwa sebagian besar dari kasus yang ditangani berani menyuap rata-rata Rp 500 juta per kasus.  Namun, semua suap ditolak mentah-mentah oleh Bibit, karena bertentangan dengan hukum dan hati nuraninya. Bayangkan, Andai saja ia mau menerima suap setengah kasus yang ia tangani, maka Bibit bisa meraup Rp 58.5 miliar dan menjadi jenderal polisi yang kaya. Namun Bibit lebih memilih hidup sederhana. Bekerja selama hampir 37 tahun (polisi selama 30 tahun + dosen selama 7 tahun), pada 2007 seluruh harta kekayaan  (rumah, tanah, kendaraan, tabungan) tidak lebih dari Rp 1,9 miliar. Angka total kekayaan ini tergolong kecil dibanding jenderal polisi lainnya, sehingga Bibit dapat disebut “jenderal kere”.

“Dulu ketika menjabat sebagai Kapolda Kalimatan Timur, saya pernah menangani 234 kasus ilegal logging. Saya babat habis. Kemudian ada yang berani ngasih duit Rp 500 juta per kasus. Kalikan saja dengan 234 kan Rp 117 miliar. Yang segitu saja saya tolak, masa sekarang dituduh ngambil Rp 1,5 miliar. Buat apa? ” ungkap Bibit Samad Rianto (Detiknews)

Apabila tawaran suap puluhan miliar ketika menjabat sebagai Kapolda Jatim ia tolak, tentu hal yang janggal jika ia menerima suap Rp 1.5 miliar ketika menjadi Wakil Ketua KPK. Dalam wawancara dengan detiknews, Bibit justru bertanya untuk apa ia menerima suap Rp 1.5 miliar, padahal sebelumnya suap puluhan miliar ia tolak. Hal itu menjawab tuduhan yang dialamatkan Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri yang melontarkan dugaan  pimpinan KPK menerima uang suap sebesar Rp 5,15 miliar dari Ari pada periode 11 Agustus 2008 (di Bellagio Residence, Jakarta), 13 November 2008, dan 13 Februari 2009. Padahal pada tanggal 11-18 Agustus, Bibit Samat Rianto justru berada di Peru.

 

”Pada 11-18 Agustus 2008 saya di Peru,” ujar Bibit. Ia juga menunjukkan surat jalan, paspor, tiket, dan surat undangan dari Kedutaan Besar Peru kepada wartawan.
”Bellagio Residence saja saya tak tahu, apalagi pernah ke sana. Jika dikatakan ada yang bertemu saya di Hotel Bellagio Residence, itu mungkin setan atau jin yang mirip dengan saya,” kata Bibit. (kompas)

“Kesalahan” Masa Lalu Bibit

Ketika mengikuti seleksi pimpinan KPK, Bibit dinilai memiliki dua kelemahan yang membuat dirinya ‘payah’. Pertama, meski berasal dari kepolisian, selama karirnya di kepolisian Bibit tidak pernah menangani kasus korupsi. Saat menjabat Kapolda Kalimantan Timur, ia hanya menangani kasus pembalakan liar.


Tidak heran, ketika mendapat pertanyaan tentang strategi memberantas korupsi pada uji kelayakan di Komisi III DPR, Bibit malah memaparkan pengalamannya mendamaikan dua kampung yang berseteru saat menjabat Kapolres Jakarta Pusat dan cara menangani banjir. Kelemahannya yang tidak pernah menangani kasus korupsi terbayarkan dari usahanya yang keras dalam menangani kasus pembalakan liar di Kaltim disamping kesederhanaan hidupnya.

Kelemahan kedua yakni ketika menjadi polisi ia mengakui pernah menerima bantuan bahan bangunan dengan alasan bukan dari pihak yang berperkara, sehingga Bibit bisa membangun rumah hanya dengan modal Rp 26 juta. Namun Bibit mengaku sudah ‘bertaubat’ dan hanya menerima bantuan pada saat pembangunan rumah saja. Kejadian itu terjadi ketika ia menjadi Kapolres.


Tapi semenjak Beliau menjadi Kapolda, ia sudah tidak melakukan (menerima) hal itu lagi. Justru, sewaktu bertugas di Kaltim,  ada pengusaha yang pengen memberi saham bodong, namun Bibit menolaknya. Begitu juga  saat Gubernur Kaltim memberi mobil ke Bibit untuk Kapolda, ketika pensiun, ia tidak membawa mobil tersebut karena ia berprinsip bahwa mobil tersebut untuk Kapolda, bukan untuk Bibit.

Pensiunan Jenderal yang Hidup Sederhana

Meskipun pensiunan jenderal polisi berbintang dua dan kemudian menjadi dosen dan terakhir menjadi Wakil Ketua KPK, Bibit dan keluarganya hidup sederhana. Dengan pangkat setinggi itu, mestinya dia bisa tinggal di perumahan elite. Tapi, tidak demikian Bibit. Pecinta kesenian keroncong ini ter­nyata hidup sederhana di perumahan biasa. Kediaman Bibit terletak di kampung Pedu­renan, belakang Perumahan Griya Kencana I, Ciledug, Tangerang. Berikut ulasan kisah Bibit (khususnya istrinya) dari hasil wawancara Wartawan Jawapos pada 17 Oktober 2009.


Dari jalan raya, kampung itu tidak memiliki pintu masuk sendiri. Untuk mencapainya, ha­rus nebeng pintu masuk perumahan, kemudian melewati jalan sempit yang hanya cukup dilalui satu mobil. Setelah itu, baru sampai di perkampungan pa­dat penduduk, tempat keluarga Bibit tinggal. Di depan rumah Bibit yang menghadap ke barat tersebut terdapat tanah kosong yang bia­sa dipakai warga untuk membakar sampah. Jadilah asap dan bau bakaran sampah familier dengan keluarga Bibit.


Di samping kanan rumahnya tersebut terdapat bekas kolam yang kini ditumbuhi rumput liar. Berimpitan de­ngan rumah itu, ada bangunan tak seberapa luas. Tempat tersebut dimanfaatkan untuk pe­nitipan gerobak PKL para tetangga yang ber­dagang makanan keliling.


Sebenarnya, rumah yang ditinggali Bibit se­jak 1992 tersebut cukup luas. Rumah itu ber­diri di atas lahan seluas 600 meter persegi. Ada halaman lumayan luas di depan rumah. Du­lu, halaman tersebut kerap dimanfaatkan para tetangga untuk berlatih musik keroncong.


Namun, seluruh bangunannya jauh dari kesan mewah. “Ya, gimana? Meskipun polisi, mam­pu belinya ya yang segini,” kata Sugihar­ti kepada Jawa Pos di kediaman tersebut Sabtu lalu (17/10). Tanah itu dibeli Bibit dari seorang anak buahnya seharga Rp 2 ribu per meter persegi pada 1989. Saat itu Bibit sudah menjadi perwira menengah.


Kendati terpencil, rumah tersebut cukup asri. Sejumlah tanaman dari jenis gelombang cinta dan jemani diletakkan di teras. Beberapa kursi tamu ditata memutari meja kecil. “Maaf, jangan duduk di situ. Kursinya jebol, belum diperbaiki,” ujar wanita 59 tahun itu kepada Jawa Pos sebelum duduk di salah satu kursi di teras.


Sugiharti amat tak percaya ketika suaminya dituding terlibat dalam kasus hukum penyalahgunaan kewenangan yang berbumbu pemerasan terhadap dua orang, yakni Direktur PT Masaro Radiokom Anggoro Widjojo dan Joko S. Tjandra. “Sama sekali saya tak percaya de­ngan tuduhan itu. Sejak dulu, hidup kami se­perti ini,” ucapnya. “Kalau benar, mana duitnya?” terangnya lantas tersenyum.


Dia menjelaskan, anak-anaknya selalu berkumpul di rumah tersebut setiap Bibit diperiksa di Mabes Polri. Mereka terus memotivasi sang bapak agar kuat menghadapi cobaan dari jabatan pimpinan KPK tersebut. Beberapa anaknya juga kerap menyerahkan sejumlah kliping koran yang memberitakan kasus ayahnya. Yang pasti, mereka terus memantau kasus yang menjadi polemik itu. “Kasusnya selalu saya pelototi dari running text televisi,” tutur dia.


Titik -panggilan akrab Sugiharti- mengungkapkan, semua anaknya juga tak percaya dengan tudingan tersebut. Sebab, selama ini mereka terbiasa hidup sederhana. Meski sang ayah menyandang jabatan pimpinan penegak hukum paling garang (KPK), papar Sugiharti, anak-anak me­reka tidak semau gue. Mereka hidup seadanya. “Anak-anak saya kalau beli rumah juga nyicil.”


Bagaimana para tetangga dan teman? Menurut Sugiharti, kasus yang membelit Bibit memancing para tetangga ikut bersuara. Dia menuturkan, beberapa tetangga bertanya, kemudian ikut mendukung Bibit. Mereka tak percaya jika Bibit benar-benar menerima duit suap seperti yang dituduhkan polisi selama ini.


Sugiharti kali pertama mendengar status tersangka dari Bibit. Ketika itu Bibit diperiksa di Mabes Polri. Kala ditetapkan sebagai tersangka, Bibit langsung mengirim SMS kepada Sugiharti. “Saya sekarang jadi tersangka,” terang Sugiharti menirukan bunyi SMS tersebut. Saat itu Sugiharti kaget. Tapi, dia tetap tidak percaya bahwa Bibit menerima dana Rp 1,5 miliar. Alasannya sederhana. “Lha, kalau ne­rima suap, mana duitnya?” tegasnya.


 

Sugiharti lahir di Purworejo, Jawa Tengah. Sebelum dinikahi Bibit, wanita kalem tersebut kuliah di Akademi Keperawatan Depkes, Jakarta. Setelah lulus pada 1970-an, dia bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Jiwa Pusat Jakarta hingga pensiun. Ketika itu Bibit muda bertugas di Bagian Intel Polda Metro Jaya sebelum akhirnya masuk Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada 1977.


Menurut Sugiharti, sebelum tinggal di tempat tersebut, keluarga mereka tinggal di Perumah­an Cicurug Indah, tak jauh dari rumah sekarang. Rumahnya tipe 45. Tapi, karena berdiri di kawasan aliran sungai, perumahan itu sering kena banjir. “Dulu kami tinggal di sana. Kalau banjir, (genangan air, Red) bisa tiga meter,” terangnya. Akhirnya, pada 1991 mereka memutuskan untuk pindah ke rumah sekarang.


Meski bersuami polisi, wanita berambut sebahu tersebut menuturkan memang harus betah bertahan hidup dengan gaji semata. Kesederhanaan itu memang ditunjukkan suaminya sejak menjadi perwira pertama. “Bapak itu polisi yang nggak pintar cari duit,” kata dia lantas tersenyum. Bibit yang ikut mendam­pinginya pun tersenyum kecil.


Sejak awal, Sugiharti memang tidak berniat berhenti dari kerja. Maklum, gaji polisi memang tak seberapa. Sebagai istri Bibit, dia rela tinggal di mes polisi kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Meskipun perwira, Bibit dan keluarganya tak sungkan tinggal di kompleks bersama polisi berpangkat tamtama. “Kondisinya dulu menyedihkan. Lantainya disapu berkali-kali pun selalu berdebu,” ungkapnya. Tapi, kesetiaannya sebagai istri Bibit sama sekali tak luntur.


Sebagai perwira pertama, saat itu Bibit memiliki banyak tanggungan. Di antaranya, dia harus membiayai banyak adiknya. Mulai adik kandung sampai adik-adik istrinya. Bibit muda adalah gantungan hidup keluarga. Karena kurangnya penghasilan, Bibit tak hilang akal. Beberapa kali dia minta izin kepada istrinya untuk jadi sopir angkot setiap lepas dinas. Namun, keinginan tersebut tak pernah kesampaian.


Untuk menambah pendapatan, dia ikut membantu menjadi petugas keamanan di salah satu hotel kecil di kawasan Kemayoran. “Itu dijalani bapak selama beberapa saat,” ucap Sugiharti. Prinsipnya, yang penting halal. Saat kuliah di PTIK, Bibit rela mendapatkan tambahan uang sebagai penata arsip kepolisian. “Itu tadi, yang penting halal,” tegas dia. De­ngan begitu, perlahan beban ekonomi keluarga terkurangi. Kesederhanaan itu pula yang melambungkan namanya hingga dinominasikan sebagai calon Kapolri di era Presiden Gus Dur.


Demikian juga setelah pensiun dari dinas kepolisian, Bibit tak ingin aktivitasnya berhenti begitu saja. Bibit mengajar di sejumlah kampus. Di antaranya, Universitas Bina Nusantara, Universitas Negeri Jakarta, dan Universitas Indonesia. Dia mengajar manajemen, mulai jenjang S-1 hingga S-3.


Aktivitas Bibit makin banyak saat menjabat wakil ketua KPK. Sampai di rumah setelah beraktivitas seharian penuh, dia masih betah berlama-lama di depan komputer. “Dia langsung menulis buku,” papar dia. Demikian halnya setelah kini nonaktif. Dia masih menyempatkan menulis buku, yakni Anatomi Korupsi di Indonesia

 

Sumber : Nusantaraku, 2 Nov.2009

Repost 0
Published by Admin - in TOKOH
write a comment
September 27 2010 2 27 /09 /September /2010 22:22

 

Alhasil, keinginan Bung Hatta untuk membeli sepasang sepatu Bally tak pernah kesampaian hingga akhir hayatnya. Bahkan, yang lebih mengharukan,  ternyata hingga wafat, guntingan iklan sepatu Bally tersebut masih tersimpan dengan baik.

 

 

DR.(HC) Drs. H. Mohammad Hatta atau lebih dikenal Bung Hatta adalah proklamator RI, Wakil Presiden I RI,  Bapak Koperasi Indonesia, negarawan, pahlawan, diplomat, dan ekonom. Itulah gelar kedaulatan yang Bung Hatta sandang. Namun, selain gelar-gelar diatas yang biasa kita baca, ada hal lain yang tidak kalah penting yang membuat saya kagum seraya bangga atas sosok Bung Hatta lainnya yakni santun, jujur, hemat, serta uncorruptable.


Bung Hatta lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat pada 12 Agustus 1902. Pada usia 19 tahun, Bung Hatta pergi ke Rotterdam, Belanda untuk belajar ilmu perdagangan/bisnis di Nederland Handelshogeschool (sekarang Universitas Erasmus) dan mendapat gelar Drs. Bung Hatta. Selama di Belanda, Bung Hatta terus melakukan perjuangan kemerdekaan untuk bangsa di nusantara. Aktivitasnya dalam organisasi menyebabkan Hatta pernah ditangkap pemerintah Belanda.


Tahun 1932 Hatta kembali ke Indonesia dan bergabung dengan organisasi CPNI yang bertujuan meningkatkan kesadaran politik rakyat Indonesia melalui proses pelatihan-pelatihan. Belanda menangkap Hatta, bersama Soetan Sjahrir, ketua Club Pendidikan Nasional Indonesia pada bulan Februari 1934. Hatta diasingkan ke Digul dan kemudian ke Banda selama 6 tahun.


Tahun 1945, Hatta secara aklamasi diangkat sebagai wakil presiden pertama RI, bersama Bung Karno yang menjadi presiden RI sehari setelah ia dan bung karno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Oleh karena peran tersebut maka keduanya disebut Bapak Proklamator Indonesia. Ia mundur dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956, karena berselisih dengan Presiden Soekarno. Bung Hatta meninggal di Jakarta, 14 Maret 1980 pada umur 77 tahun.


Bung Hatta, Sikap Negarawan yang Langka

Bila India memiliki Mahatma Gandhi sebagai bapak negarawan yang sederhana, santun, bersahaja bagi rakyatnya, maka Indonesia memiliki Bung Hatta. Sepanjang hidupnya, Bung Hatta berperilaku senantiasa menampilkan sikap yang santun terhadap siapa pun. Baik kawan maupun lawan. Terhadap Bung Karno yang pada masa sebelum kemerdekaan melakukan kerja sama cukup erat namun kemudian mereka tidak dapat bekerja sama secara politik, tetapi sebagai sesama manusia, Bung Hatta masih menghormatinya. Ketika Bung Karno sakit, Bung Hatta menengoknya. Demikian pula sebaliknya. Kesantunan menjadi sikap dalam hidupnya untuk saling menghargai.


Banyak  kisah tentang dia yang menyadarkan kita semua, bahwa Indonesia pernah memiliki seorang pemimpin dan negarawan yang teramat bersahaja. Dan, itu pula yang disampaikan Rachmawati Soekarnoputri dalam tulisannya yang dimuat di Harian Kompas, 9 Agustus 2002, Mengenang 100 Tahun Bung Hatta. Dalam tulisan tersebut, putri mendiang Bung Karno tersebut mengatakan, suri teladan yang perlu diteladani dari Bung Hatta adalah sifat dan perilakunya yang fair dan jujur. “Jujur di sini, tidak hanya terbatas pada tidak melakukan praktik KKN selama berkuasa atau menjabat. Namun, lebih dari itu, Bung Hatta jujur terhadap hati nuraninya,” kata Rachmawati.


Hal itu terlihat saat Bung Hatta mulai tidak sepaham dengan Bung Karno antara lain menganggap Bung Karno sudah ke-kiri-kirian, terlebih saat Bung Karno mencetuskan ide Nasakom, Bung Hatta yang sudah tidak sepaham lagi dengan Bung Karno memilih mengundurkan diri 1 Desember 1956.


Kejujuran yang diperlihatkan Bung Hatta dalam hal ini justru menunjukkan sikap ksatria seorang negarawan yang patut dihargai dan dicontoh. Kendati demikian, hubungan pertemanan antara Bung Hatta dan Bung Karno tidak lalu berubah menjadi permusuhan, malahan Bung Hatta melakukan kerja sama yang kritis terhadap Bung Karno (critical cooperation). Bahkan, adakalanya Bung Hatta memberikan masukan langsung datang ke Istana selain menulis surat atau menelepon. Dan, Bung Karno pun tetap menganggap Bung Hatta sebagai teman bukan musuh yang harus “dilumpuhkan”.


Rachmawati juga mengungkapkan bahwa sikap fair dan perilaku terasa ketika Bung Karno sakit setelah terjadinya G30S/PKI tahun 1965. Ketika Bung Karno mulai jatuh sakit, Bung Hatta tetap memberikan perhatian kepada Bung Karno. Bahkan, pada saat sakit yang diderita Bung Karno semakin parah pada tahun 1969 dan terpaksa harus dirawat di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Bung Hatta bersikeras menjenguk Bung Karno di mana tak satu pun pejabat atau tokoh lain mau menjenguk Bung Karno.

Rumah kediaman Bung Hatta terlalu sederhana utk ukuran mantan RI-2


Wakil Presiden Bung Hatta Harus Menabung Membeli Sepatu “Bally”, Tapi…..

Salah satu kisah mengugah dari Bung Hatta yang dikenang masyakarat adalah kisah  tentang sepatu Bally. Pada tahun 1950-an, Bally adalah merek sepatu bermutu tinggi yang berharga mahal. Bung Hatta, ketika masih menjabat sebagai wakil presiden, berniat membelinya. Untuk itulah, maka dia menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya.


Setelah itu, dia pun berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut. Namun, apa yang terjadi? Ternyata uang tabungan tidak pernah mencukupi untuk membeli sepatu Bally. Ini tak lain karena uangnya selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu orang-orang yang datang kepadanya guna meminta pertolongan.  Alhasil, keinginan Bung Hatta untuk membeli sepasang sepatu Bally tak pernah kesampaian hingga akhir hayatnya. Bahkan, yang lebih mengharukan,  ternyata hingga wafat, guntingan iklan sepatu Ball tersebut masih tersimpan dengan baik.


Andai saja Bung Hatta mau memanfaatkan posisinya saat itu, sebenarnya sangatlah mudah baginya untuk memperoleh sepatu Bally, misalnya dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalannya. Barangkali bukan hanya sepatu merek Bally yang mampu dibelinya. Bisa saja ia memiliki saham di pabrik sepatu dan berganti-ganti sepatu baru setiap hari. Tetapi, ia tidak melakukan semua itu. Ia hanya menyelipkan potongan iklan sepatu Bally yang tidak terbelinya hingga akhir hayat. Bila dilihat pada kondisi sekarang, seharusnya masa lalu juga demikian, tentu hal ini merupakan sebuah tragedi.


Seorang mantan wakil presiden, orang yang menandatangani proklamasi kemerdekaan, orang yang memimpin delegasi perundingan dengan Belanda –negara yang pernah menjajahnya—hingga Belanda mau mengakui kedaulatan Indonesia, ternyata tidak mampu hanya untuk sekadar membeli sepasang sepatu bermerek terkenal. Meski memiliki jasa besar bagi kemerdekaan negeri ini, Bung Hatta sama sekali tidak ingin meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain atau negara.


Menurut Jacob Utama, Pemimpin Umum Harian Kompas, segala yang dilakukan Bung Hatta sudah mencerminkan bahwa dia tidak hanya jujur, namun juga uncorruptable, tidak terkorupsikan. Kejujuran hatinya membuat dia tidak rela untuk menodainya dengan melakukan tindak korupsi.  Mungkin banyak masyarakat berkomentar, “Iya, lha wong sepatu Bally harganya, kan, selangit.”


Namun lagi-lagi itulah, ternyata bukan hanya sepasang sepatu itu yang tidak mampu dibeli Hatta. Barang lain yang juga tak mampu dibelinya adalah mesin jahit yang juga sudah lama didambakan sang istri. Wah, mengapa bisa begitu? Ya, tak lain karena setelah mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden, 1 Desember 1956, uang pensiun yang diterimanya sangat kecil. Bahkan saking kecilnya, sampai-sampai hampir sama dengan Dali, sopirnya yang digaji pemerintah. Dalam kondisi seperti ini, keuangan keluarga Bung Hatta memang sangat kritis.


Sampai-sampai, pernah suatu saat Bung Hatta kaget melihat tagihan listrik, gas, air, dan telepon yang harus dibayarnya, karena mencekik leher. Menghadapi keadaan itu, Bung Hatta tidak putus asa. Dia semakin rajin menulis untuk menambah penghasilannya. Baginya, biarpun hasilnya sedikit, yang penting diperoleh dengan cara yang halal. Itu sebabnya, mengapa Bung Hatta mengembalikan sisa uang yang diberikan pemerintah untuk berobat ke Swedia. Itu dilakukan, karena sepulang dari Swedia Bung Hatta mendapati bahwa uang tersebut masih bersisa, dan dia merasa itu bukan haknya.


Sungguh mengagumkan. Apa yang dilakukan Bung Hatta adalah karena dia ingin menjaga nama baik. Bukan hanya dirinya sendiri, tetapi nama baik bangsa dan negara. Dalam konteks itu pula, maka Bung Hatta pun tidak berusaha bekerja di berbagai perusahaan meski sebenarnya sangat memungkinkan. Dalam pandangannya, jika dia bekerja pada perusahaan, maka citra seorang mantan wakil presiden akan runtuh. Juga, jika dia menjadi seorang konsultan, maka sebenarnya dirinya sedang terjebak ke dalam bias persaingan usaha yang sarat dengan kepentingan.


Pemikiran yang luar biasa itulah yang dijalankan oleh Bung Hatta. Bung Hatta lebih memilih hidup sederhana demi menjaga nama baik bangsa Indonesia. Bung Hatta telah mengorbankan dirinya bagi negeri ini. Bung Hatta begitu hati-hati menggunakan kekuasaan.

Semoga melalui artikel yang diangkat dari kisah nyata dari seorang pemimpin besar bangsa ini, seorang proklamator yang turut memperjuangkan NKRI dengan Pancasila sebagai falsafah bangsa, memberi kebanggaan sekaligus teladan bagi rakyat Indonesia, terutama generasi muda. Membaca kisah ini mestinya membuat malu bagi setiap warga Indonesia, terutama para pejabat, baik eksekutif, yudikatif maupun legislatif yang berebut kursi kekuasaan. Bagaimana mungkin anggota dewan sudah meminta jatah laptop diawal jabatannya? Bagaimana timpangnya sikap Bung Hatta dengan sikap  Kementerian Kabinet Indonesia Bersatu II yang minta kenaikan gaji pasca 1 hari dilantik?

 

Semoga kisah Bung Hatta tentang Sepatu Bally menjadi bagian dari artikel dalam pendidikan sekolah terkait pendidikan antikorupsi dan bela negara. Saya terharu sekaligus kagum mengetahu bahwa seorang Wakil Presiden RI yang juga bapak proklamator harus menabung untuk membeli sepatu “Bally”, tapi…. hingga akhir hayatnya ia harus memendam cita-citanya! Terima kasih Bung Hatta!

Salam bela negara dengan tidak korupsi.


  Sumber :   http://nusantaranews.wordpress.com/

Repost 0
Published by Admin - in TOKOH
write a comment

Overview

  • : CAKRAWALA JAGAD RAYA- SOLIDARITAS ANTI KORUPSI
  • CAKRAWALA JAGAD RAYA- SOLIDARITAS ANTI KORUPSI
  • : BLOG SOLIDARITAS ANTI KORUPSI - Ungkapan dan pandangan tentang berbagai permasalahan sosial, ekonomi, kemasyarakatan, lingkungan hidup, praktek penyelenggaraan negara sebagai akibat dari tindak pidana korupsi serta fenomena-fenomena terkait.
  • Contact

Profile

  • Harsudi CH
  • Anak bangsa yang miris melihat kondisi sosial ekonomi di negeri tercinta Indonesia. Tidak bisa berbuat banyak kecuali mengajak sesama anak bangsa untuk mulai sadar dan peduli melawan  korupsi yang semakin menggurita di Bumi Ibu Pertiwi ini.
  • Anak bangsa yang miris melihat kondisi sosial ekonomi di negeri tercinta Indonesia. Tidak bisa berbuat banyak kecuali mengajak sesama anak bangsa untuk mulai sadar dan peduli melawan korupsi yang semakin menggurita di Bumi Ibu Pertiwi ini.

KORUPSI ADALAH NAFAS KEHIDUPAN MAYORITAS PENYELENGGARA NEGARA

addesign-copy-1http://blog-indonesia.com/image/badge_3dyellow.gif

ANNOUNCEMENT

Archives

TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF
HILANG HARAPAN ANAK INDONESIA AKIBAT KORUPSI

.

Clipping - Politik / Korupsi

Categories

SHOLAT TIMES