Overblog Follow this blog
Administration Create my blog
March 26 2012 2 26 /03 /March /2012 22:28

26.03.2012 10:56, SH

Sungguh tersentak hati ketika melihat penderitaan yang dialami Ibnu Alfajri. Bocah berumur 12 tahun ini, yang seharusnya bermain riang dan berkumpul bersama teman-temanya, terpaksa tergeletak lemas menahan rasa sakit di kepalanya seumur hidup.


 

Ibnu yang menderita penyakit pembengkakan pada kepala memang tidak bisa berbuat banyak akibat penyakitnya tersebut. Dia hanya bisa pasrah dirawat oleh orang tuanya di rumah kontrakan berukuran 3x5 meter di RT 15/10, Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat.


Sehari-hari dia hanya sanggup tergeletak di tempat tidur yang tak beralaskan kasur. Satu-satunya tempat tidur beralaskan papan ini digunakan untuk tidur bersama orang tua dan ketiga saudara kandung Ibnu.


Rumah kontrakan dengan bayaran Rp 250.000 per bulan, ditambah dengan kondisi lingkungan yang kumuh, serta berdekatan dengan kandang kambing dan tumpukan sampah, semakin menambah penderitaan Ibnu.


Ditambah lagi lahan tersebut dahulu adalah daerah rawa sehingga hunian kontrakan tersebut selalu tergenang air hasil rembesan air rawa yang lokasinya persis di belakang kontrakannya.


Sang Ibu, Sulastri mengatakan, Ibnu adalah buah hatinya yang sulung dari empat bersaudara. Ketika dilahirkan, Ibnu terlahir sebagai anak yang normal. Namun, suatu hari saat umur Ibnu menjelang tiga bulan, terjatuh dari ayunan. Saat itu mereka tinggal di rumah kontrakan di daerah Jembatan Tiga.


Setelah terjatuh, Sulastri langsung membawa anaknya ke tukang urut dan klinik di daerah Jembatan Tiga. Setelah menjalani pemeriksaan di klinik beberapa kali, dokter menyatakan anaknya dalam kondisi sehat, hanya mengalami memar di bagian kepala. Namun, beberapa waktu setelah kejadian itu, sedikit demi sedikit kepala anaknya membengkak hingga sekarang.


Akibatnya, kepalanya bertambah berat sehingga Ibnu hanya sanggup tergeletak di dipan dengan kondisi badan kurus. “Saya sangat sedih melihat kondisi anak saya. Tapi, karena tidak ada uang, gimana lagi? Terlebih lagi suami saya pekerjaannya serabutan, sehingga tidak dapat membawa anak saya ke rumah sakit. Makanya saya hanya bisa pasrah, merawatnya di rumah,” katanya.


Penderitaan Ibnu yang sudah berlangsung belasan tahun tersebut, hingga saat ini tidak disentuh oleh Pemerintah Kota Jakarta Barat. Bantuan yang datang hanya sebatas pemeriksaan oleh petugas puskesmas di kelurahan setempat, serta kunjungan dan bantuan alakadarnya dari pihak kelurahan.


Camat Cengkareng Junaidi mengatakan, pihaknya hingga saat ini belum mendapat laporan baik dari aparat kelurahan maupun puskesmas setempat. Namun, demi rasa kemanusiaan, dia akan segera berkoordinasi dengan pihak kelurahan setempat dan Suku Dinas (Sudin) Kesehatan untuk melakukan pengecekan dan selanjutnya mengambil langkah untuk segera membantu Ibnu.


“Kami akan melakukan pengecekan, mudah-mudahan jika semuanya lancar, penderitaan Ibnu akan segera berakhir,” katanya. (CR-28), SH.

Repost 0
December 23 2011 6 23 /12 /December /2011 19:00

Jumat, 23/12/2011 14:24 WIB
   
Whery Enggo Prayogi - detikFinance


Jakarta - Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) mencatat tindak pencucian uang dan transaksi mencurigakan semakin berkembang. Salah satunya adalah menyalahgunakan dana APBN untuk pemenangan pemilu kepala daerah.

Demikian disampaikan Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan PPATK, Muhammad Yusuf dalam refleksi akhir tahun 2011, seperti dikutip detikFinance, Jumat (23/12/2011).

"Modus operansi yang dilakukan para pelaku tindak pidana pencucian uang terus berkembang, mengambil celah agar sulit terlacak," ucapnya.

"Tren penggunaan rekening pihak ketiga dalam melakukan pencucian uang dengan menggunakan rekening istri dan anak, serta usaha yang legal dalam pencucian uang," tambah Yusuf.

PPATK mencatat, penggunaan rekening pribadi bendahara yang melibatkan kepala daerah dan bendahara pemerintah, dengan penyalahgunaan APBN. Modusnya dengan membuka rekening pribadi di bank, sebagai penampungan dana.

"Dana ini digunakan untuk keperluan kampanye pemenangan pemilu kepala daerah," tegasnya.

PPTAK juga menjelaskan, hasil pencucian uang sering kali diinvestasikan ke dalam instrumen keuangan, seperti SBI, deposito dan atau perusahaan asuransi.

(wep/qom)

Repost 0
December 1 2011 5 01 /12 /December /2011 17:11
Rabu, 30 November 2011 06:15 WIB     
 
Buruh Batam Rindukan Kesejahteraan
ANTARA/Nwa Kanu/sa

BATAM--MICOM: Sepeda motor keluaran 2010 itu bersiap membelah jalan raya di Kota Batam. Sang pemilik, Anis, mencoba menghilangkan noda lumpur yang menempel malam sebelumnya.

Di depan deretan rumah liar--orang Batam menyingkatnya dengan istilah 'ruli'--di kawasan Batu Aji, Anis juga memanaskan mesin sepeda motornya. "Judulnya saja Kota Batam ini dikenal dengan kehidupan mewah. Kenyataannya, hanya bos-bos saja yang bisa begitu," tutur sang penghuni ruli ini.

Di Batam, seperti kota besar lainnya, rumah liar tumbuh dan terus meluas. Permukiman yang tergolong paling besar ialah Kampung Aceh dan Sagulung.

Dulu, Anis buruh di perusahaan galangan kapal. Kini, ia memilih menjalani kehidupan dengan menjadi tukang ojek sepeda motor.

Menjadi buruh, ia jalani selama dua tahun, pada 2008-2010. Upah yang ia dapat tidak beringsut dari Rp3.500 per jam. Dana yang bisa dikumpulkan per bulan membuatnya menjadi orang yang tidak bisa hidup layak karena di Batam semua bahan pokok dihargai mahal.

Muak dengan kehidupan yang tidak kunjung membaik, ia memilih hengkang. Dengan mengandalkan sadel sepeda motor, kini, Anis bisa hidup sedikit lebih baik.
"Kami hidup seperti ini karena terkena dampak korupsi," kata Anis.

Ia ingat persis ketika pemilihan kepala daerah, Wali Kota Batam Ahmad Dahlan, yang ketika itu mencalonkan diri, mengumbar janji manis. Mulai dari harga air bersih yang tidak akan naik, listrik, hingga sekolah gratis.

Janji tinggal janji. Hidup Anis nyaris tidak berubah. Tinggal di rumah liar, dan sewaktu-waktu harus dibongkar.

Ia punya pengalaman. Dulu, Anis menghuni rumah liar di sekitar Jalan Raya Mandalay. Tapi, atas nama pembangunan Jalan Trans-Batu Aji-Tanjung Ucang, para penghuni puluhan rumah liar diusir. Rumah mereka dirobohkan.

Batam berkobar

Tahun lalu, dengan bekerja di pabrik, seorang buruh mengantongi Rp1,1 juta per bulan. Tahun ini, pengusaha mengajukan kenaikan Rp1,2 juta. Pemerintah kota mengajukan angka Rp1,3 juta. Buruh berkukuh dengan angka Rp1,7 juta.

Titik temu tidak pernah terjadi. Gelombang unjuk rasa membakar Kota Batam selama dua hari berturut-turut. Puncaknya, pada Kamis (24/11), buruh mengamuk. Pos polisi jadi sasaran, dirusak dan dibakar. Sejumlah kendaraan milik pemerintah kota pun dilalap api.

"Kerugian akibat aksi itu mencapai Rp27 miliar per hari. Para ekspatriat juga mulai ketakutan," kata Ketua Kamar Dagang dan Industri Batam, Nada F Soraya.

Biaya hidup di Batam memang tinggi. Maryoto, pekerja lain, berujar biaya anak di sekolah menengah pertama rata-rata Rp500 ribu per bulan. Sekali makan butuh dana Rp15 ribu. Belum lagi tagihan sewa rumah Rp400 per bulan, Rp250 ribu untuk listrik, dan air bersih Rp25 ribu.

"Penghasilan saya mencapai Rp4 juta per bulan. Tapi, hidup dengan istri dan tiga anak, kami sudah tidak bisa menabung, serbapas-pasan, bahkan mentok setelah tengah bulan," ungkapnya.

Upah minimum kota yang tahun ini diajukan serikat pekerja sebesar Rp1,3 juta per bulan juga menimbulkan pertanyaan besar bagi akademisi dari Universitas Putera Batam, Baru Harahap. Angka sejahtera bagi pekerja di kawasan ini seharusnya sudah di atas Rp1,7 juta. "Kebutuhan hidup di Batam jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan kawasan industri lain yang ada di Indonesia," tandasnya.

Jadi sorotan ketika kerusuhan meledak membuat Pemerintahan Kota Batam sepertinya memilih pasrah. Wali Kota Ahmad Dahlan tidak pernah menampakkan diri. Karena itu, kabar pun beredar bahwa ia memilih kabur ke Singapura.

Sedikit suara justru dilontarkan Ketua Dewan Pengupahan Kepulauan Riau Togar Napitupulu. "Kami menyerahkan semuanya kepada Gubernur Kepulauan Riau."
Mengapa buruh di Batam mengamuk? Itu tindakan yang ditempuh setelah perundingan berjalan buntu.

Menurut Ketua Federasi Serikat Pekerja Metal Batam Yoni Mulyo Widodo, rundingan UMK sudah dimulai 27 Oktober. "Yang hadir saat itu ialah pengurus Asosiasi Pengusaha Indonesia Batam serta Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia," katanya saat ditemui di sebuah ruko di Batam, kemarin.

Apindo saat itu memunculkan angka Rp1,2 juta. Serikat pekerja mematok Rp1,7 juta. Deadlock terjadi. "Sepanjang perundingan, tidak pernah ada kesepakatan bahwa UMK Batam itu 1,3 juta. Yang benar, saat survei pada 20 Oktober didapatkan angka kebutuhan hidup layak Rp1,3 juta," tambah Yoni.

Tunggu aksi menteri

Dari Jakarta, anggota Komisi Ketenagakerjaan DPR Rieke Diah Pitaloka mendukung seluruh buruh di Tanah Air berjuang untuk mendapat kenaikan upah. "Penetapan upah di setiap kota, kabupaten, dan provinsi di seluruh Indonesia adalah hal yang krusial, karena menyangkut kehidupan mereka satu tahun ke depan. Apalagi untuk daerah industri dan berkategori free trade zone seperti Batam."

Ia pun mengecam keras insiden penembakan dengan peluru karet oleh kepolisian yang menyebabkan empat orang terluka. "Aneh, buruh nuntut hak-haknya malah ditembak," ujar Rieke.

Mantan selebritas ini juga mendesak Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar untuk segera merespons persoalan pengupahan dan tuntutan buruh. Salah satunya dengan memenuhi janji dan kesepakatan dengan Komisi IX DPR RI dalam rapat dengar pendapat umum pada 22 November.

"Menteri sudah berjanji akan merevisi Peraturan Menakertrans No 17/2005 tentang KHL, yang sudah tidak layak digunakan lagi dengan kondisi sekarang," tandas dia. (HK/N-2)

Repost 0
June 2 2011 5 02 /06 /June /2011 22:23

 

Rabu, 01/06/2011 21:38 WIB

Mansyur Hidayat - detikNews

GAlami Sejumlah Cacat Fisik, Dede Tegar Tak Pernah Minum ASIarut - Kondisi bayi 8 bulan, Dede Tegar, memang sangat memprihatinkan. Gara-gara dia mengalami sejumlah cacat fisik, dia pun tak pernah minum ASI sejak lahir. Dia selalu minum susu formula yang harganya menguras kantong orangtuanya.


Penderitaan DedeTegar jelas menambah penderitaan yang dialami kedua orang tuanya, Enok (40) dan Iban (35) warga Kampung Babakan Cibeureum, Desa Mulyasari, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Sebab, keduanya harus berjuang keras untuk bisa membeli susu formula, termasuk ngutang ke tetangga.

"Sejak lahir saya tidak bisa memberikan ASI kepada Dede, karena pada saat menyusui, ASI yang sudah diminum Dede keluar lagi karena tersedak. Ini akibat Dede mengalami bibir sumbing yang cukup parah ", ujar Enok, Rabu (1/6/2011), kepada wartawan.

Harga susu formula yang mahal, membuat Enok, mencari cara agar irit. Dia pun mencampur susu formula itu dengan air beras yang sudah matang. "Dengan cara ini, satu dus susu formula 350 gram, bisa cukup hingga 4 atau 5 hari ", ungkap Enok.

Meskipun cukup berat karena harus menghidupi kedua anak lainnya, Enok dan Iban tidak patah semangat. Mereka terus berusaha mencari nafkah. " Saya sering ngutang ke tetangga, yang penting anak-anak saya dapat terpenuhi kebutuhan makannya ", ucap Enok dengan lirih.

Pendapatan Iban tiap hari paling tinggi Rp 30 Ribu. Uang ini ia dapatkan sebagai hasil penjualan barang-barang rongsokan yang didapat hasil berkeliling dari kampung ke kampung. " Itu pun kalau lagi bagus, ya kalau biasa-biasa paling dapat Rp 15 hingga 20 Ribu, bahkan sering pulang ke rumah gak bawa hasil," kata Iban.

Iban hanya berharap ada dermawan yang datang untuk membantu meringankan beban perekonomian keluarganya. "Kalau Dede berhasil oprasi bibir sumbing, setidaknya untuk membeli susu bisa dipergunakan untuk kebutuhan lain ", pungkasnya.

Anda ingin berbagi kepedulian dengan Dede Tegar? Para member detikforum (detikers) membuka rekening untuk membantu Dede. Sumbangan bisa dikirimkan melalui rekening:
Rekening BCA an Zakiah Hasmawaty no rek. 3421933934
Rekening Mandiri an Irma Juwita no rek. 1290006852467
Untuk lebih jelasnya, klik: detikforum.

(asy/asy)

Repost 0
June 1 2011 4 01 /06 /June /2011 22:56

Senin, 28 Maret 2011 - 21:09 WIB

           

KARAWANG (Pos Kota) – Siswa kelas tiga SDN Pangulah Selatan, Namin Budiman, 10, warga Kampung Daringo RT 01 RW 05 Desa Pangulah Selatan, beberapa bulan terakhir ini terkulai lemas berat badannya melorot, saat ini hanya 18 Kg, waktu masih sehat berat badannya masih 23 Kg.


Namin, sempat dirawat di rumah sakit umum menggunakan kartu Jamkesda dan Jamkesmas. Ketika diperiksa dia dinyatakan kekurangan gizi, ungkap Arwanto, 30, ayahnya Namin, yang pekerjaaan sehari –harinya sebagai tukang parkir di Cikampek.

Sebenarnya orangtuanya itu menghendaki anaknya dirawat di rumah sakit, tapi karena kendalanya biaya, sehingga sekarang ini hanya berobat jalan, aku Arwanto.


Namin Budiman, ternyata merupakan salah satu dari 110 Balita di Karawang yang menderita gizi buruk. Data ini diperoleh dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Karawang. Meski tiap tahun program penanggulangan gizi buruk dicanangkan Pemkab Karawang, namun jumlah penderita gizi buruk selalu bertambah.


Bahkan, jumlahnya tidak menutup kemungkinan lebih besar. “Penanganan gizi buruk bukan hanya tanggung jawab Dinas Kesehatan saja, melainkan juga dari stakeholder bersama-sama elemen masyarakat lainnya,” ucap dr. Asep Hidayat, Kepala Dinkes Karawang, Senin (28/3).


Asep Hidayat mengungkapkan, masalah gizi lain yang ditemukan pada kegiatan itu adalah gangguan akibat kekurangan yodium, termasuk endemic gaky yang tersebar di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Tegalwaru, Pangkalan, Ciampel, Telukjambe Barat, Banyusari, Kotabaru, serta Batujaya.


Untuk menanggulangi masalah gizi buruk, Pemkab telah melakukan berbagai langkah, yaitu  pelacakan dan surveilans aktif gizi buruk hingga pemeriksaan kesehatan balita gizi buruk, termasuk penyuluhan dan konseling. Bahkan memberikan pelatihan tata laksana gizi buruk bagi petugas gizi di Puskesmas. (nourkinan/B)

Repost 0
May 30 2011 2 30 /05 /May /2011 22:19

 

Laporan wartawan Pos Kupang, John Taena
POS-KUPANG.COM/JOHN TAENA
Murid Sekolah Dasar Inpres (SDI) Maulumbi, Kecamatan Kanbera, Kabupaten Sumba Timur melintasi aliran sungai yang deras dengan bertelanjang saat berangkat ke sekolah. Gambar diambil, Senin (30/5/2011) pagi.
"Setelah tiba diseberang sungai, anak-anak tersebut baru mengenakan kembali pakain masing-masing untuk melanjutkan perjalan ke sekolah."
Senin, 30 Mei 2011 | 10:06 WIB

WAINGAPU,POS-KUPANG.Com -- Berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki merupakan sesuatu yang sudah lumrah. Namun, sekitar 20 siswa Sekolah Dasar Inpres (SDI) Maulumbi, Kecamatan Kanbera, Kabupaten Sumba Timur, setiap pagi harus berenang mengarungi aliran sungai yang deras untuk bisa mencapai sekolahnya.

Mereka harus telanjang saat berenang agar pakaian seragam dan bukunya tidak basah. Mereka harus bertarung melawan bahaya ancamana bintang buas seperti buaya yang sewaktu-waktu bisa muncul.

Disaksikan Pos-Kupang.Com, Senin (30/5/2011) pagi, sekitar 20-an siswa SDI Maulumbi, Kecamatan Kanbera, Kabupaten Sumba Timur berenang melintasi aliran sungai yang cukup deras untuk menuju ke sekolah. Saat tiba di tepi Sungai Maulumbi, baik laki-laki maupun perempuan harus meanggalkan pakain mereka. Hal ini bertujuan agar pakian dan perlengkapan sekolah mereka tidak basah. Selanjutnya, pakain seragam, sepatu dan buku pelajaran disimpan dalam tas sekolah dan terjun ke dalam sungai.

Kurang lebih sepuluh menit, anak-anak usia tujuh hingga 15 tahun ini berada di dalam aliran sungai. Selain itu, mereka juga harus berenang ketika berada di tengah sungai yang cukup dalam. Setelah tiba diseberang sungai, anak-anak tersebut baru mengenakan kembali pakain masing-masing untuk melanjutkan perjalan ke sekolah.

Di Sungai Maulumbi, terlihat sejumlah orang tua para siswa ikut membantu menyeberangkan anak-anak mereka. Hal ini disebabkan, selain aliran sungai yang deras dan juga dalam, di lokasi tersebut juga merupakan daerah yang sering dilalui buaya muara.

"Setiap pagi saya datang antar anak saya sampai ke sebrang sungai baru saya pulang, siang juga datang jempu karena takut ada buaya di sini," demikian Ny. Erlin Konda Nguna (23) salah seorang orang tua para anak-anak tersebut.

Dia menjelaskan, biasanya kalau musim hujan dan terjadi banjir besar maka anak-anak dari Kampung Pa'da Karamba, Kecamatan Kanbera tidak bisa pergi ke sekolah. Hal ini disebabkan, para orang tua dan juga siswa tidak bisa menyebrangi sungai tersebut.

"Memang ada satu sampan di sini, tapi hanya bisa muat empat orang," jelasnya.

 

Editor : Sipri Seko | Penulis : John Taena |

Repost 0
May 24 2011 3 24 /05 /May /2011 23:42

Selasa, 24/05/2011 20:43 WIB

Khairul Ikhwan - detikNews

Jaminan Sosial Nasional Harus Secepatnya Direalisasikan 

Medan - Pemerintah terus didesak untuk segera melaksanakan UU No 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Rakyat membutuhkan ketersediaan jaminan sosial, yaitu penyediaan perlindungan yang dilakukan melalui prosedur publik atas berbagai risiko sosial atau kehilangan penghasilan.

Berbicara dalam salah satu sesi seminar di forum "Ini Demokrasi Medan Bung" yang berlangsung di Universitas Sumatera Utara (USU), Selasa (24/5/2011) sore, Koordinator Komite Aksi Jaminan Sosial Provinsi Sumatera Utara (KAJS-Sumut) Minggu Saragih menyatakan, sejak UU SJSN disahkan 19 Oktober 2004, pemerintahan SBY belum juga secara nyata mau melaksanakan amanat UUD 1945 ini secara penuh.

"Berbagai alasan pun dikemukakan untuk terus menunda-nunda pelaksanaannya, mulai dari belum siapnya negara ini melaksanakan amanat tersebut, belum tersedianya aturan pelaksanaan, hingga kemampuan keuangan negara. Pembahasan RUU BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) di Panitia Khusus DPR pun tersendat karena penolakan pemerintah untuk melanjutkannya," kata Saragih.

Setelah tertunda dua kali masa sidang sejak Oktober 2010, kata Saragih, aksi massa yang dilakukan rakyat di 15 provinsi yang akhirnya membuat pemerintah menyampaikan juga Daftar Inventarisasi Masalah(DIM) RUU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kepada DPR pada 12 Mei 2011 lalu. RUU BPJS itu merupakan syarat mutlak terlaksananya UU No 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), yang merupakan aturan turunan dari pasal 28H ayat 3 dan 34 ayat 2 UUD 1945.

Saat ini, tukas Saragih, DIM sedang dibahas Panitia Khusus RUU BPJS, yang sudah berjanji kepada publik untuk akan secara intensif memperjuangkan disahkanya RUU BPJS, khususnya mengingat sisa waktu yang amat terbatas hingga paling lambat 15 Juli 2011.

"Apabila batas waktu ini terlampaui maka harapan seluruh rakyat Indonesia untuk terwujudnya jaminan sosial menyeluruh terpaksa harus kembali tertunda, setidaknya hingga 2014 setelah dilaksanakannya Pemilu berikut. Ini masalahnya," tukas Saragih dalam seminar yang digagas Friedrich-Ebert-Stiftung (FES) Indonesia, Yayasan KKSP, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USU dan Tempo Institute tersebut.

Bagi rakyat, kata Saragih, yang penting adalah yang dikerjakan, bukan sekadar kata-kata dan retorika manis tapi penuh jebakan. Makin mendekati tahap perumusan lebih konkret dari RUU BPJS, makin terasanuansa pencarian rente (rent seeking), mencari keuntungan untuk diri sendiri dan kelompoknya, menguat seiring kompromi-kompromi yang dilakukan Pemerintah dan politisi partai politik di Panitia Khusus
maupun DPR secara umum.

(rul/irw)

Repost 0
May 24 2011 3 24 /05 /May /2011 23:34

Selasa, 24/05/2011 18:40 WIB

Andri Haryanto - detikNews


"Sekitar pukul 15.30 WIB, kanopi atau atap di lantai tiga SDN 01 Pagi dan 02 Kwitang roboh. Tiga orang murid SDN 02 Siang Kwitang mengalami luka di kepala dan satu orang penjaga kantin ikut terluka karena tertimpa kayu balok yang menyangga kanopi," kata Lurah Kwitang, Ishran, di lokasi kejadian, Jl Kramat 3, Gang Listrik 1, RT 3 RW 9, Kelurahan Kwirang, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, Selasa (24/5/2011).

Pada saat kejadian, siswa-siswa sedang berjalan keluar dari kelas untuk pulang ke rumah masing-masing. Namun tiba-tiba saja atap itu roboh padahal tidak ada angin kencang atau hujan.

Beberapa saat kemudian, para murid lainnya yang masih di sekolah langsung dikeluarkan dan dipulangkan karena takut kejadian robohnya atap akan merambat. Sementara ketiga siswi dilarikan ke puskesmas terdekat. Kepala mereka terkena genteng dan bocor.

Sedangkan penjaga kantin, Ero, dirawat di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat.

"Dua kepala sekolah sudah dimintai keterangan di polsek Senen," tambah Ishran.

Pantauan detikcom, lokasi runtuhan kanopi sekolah diberi garis polisi. Namun masih terlihat genteng dan kayu balok yang menimpa kantin.

(feb/nwk)

Repost 0
May 5 2011 5 05 /05 /May /2011 19:27
 

Ayi Lumpuh Setelah Bekerja di Arab Saudi

JAKARTA - Okezone- Ayi Kurniasih (40) warga Garut, Jawa Barat ini harus menderita lumpuh setelah bekerja keras mencari nafkah menjadi TKI di Jeddah, Arab Saudi. Dia sudah bekerja di Arab sekira 5 tahun untuk menyambung hidup di perantauan.

Ayi yang pernah bekerja sebagai pengasuh di panti jompo itu baru merasa kesehatannya terganggu sekira satu setengah tahun lalu saat menjadi pembantu rumah tangga majikannya di Jeddah.

 

"Saya merasa sakit di pinggang, sakitnya makin parah lalu saya dipulangkan ke penampungan," kata Ayi saat ditemui okezone di RS Koja, Jakarta Utara, Kamis (5/5/2011).

 

Setelah dipulangkan ke penampungan, Ayi mengaku ingin kembali ke Tanah Air lantaran sangat rindu dengan keluarga dan kampung halamannya.

 

Namun, karena tidak memiliki paspor dan biaya yang cukup, maka dia akhirnya tertahan di negeri kaya minyak tersebut. Ayi mengisahkan dirinya pernah sempat menjadi gelandangan selama sebulan sebelum akhirnya bisa pulang ke Indonesia.

 

"Saya sempat tinggal di kolong jembatan bersama ratusan orang. Saya dirawat teman-teman saya di sana, mereka semua baik," imbuhnya.

 

Saat mendengar ada pemulangan TKI gratis di penampungan Al Madinatul Hujjah di Asrama Haji kota Jeddah, Arab Saudi, dirinya mengaku senang dan antusias ingin segera pulang kampung. "Di penampungan saya mulai belajar jalan dan menggerak-gerakkan badan saya yang mulai membaik. Di sana makanan kita juga terjamin," tandasnya.


Kini, Ayi harus dirawat intensif di lantai 6 RS Koja Jakarta Utara guna menjalani perawatan intensif pemulihan kakinya. Selain Ayi terdapat lima orang lainnya yang mendapat perhatian khusus oleh dokter. Empat orang menderita stroke dan seorang lainnya lumpuh seperti dirinya.

 

Hingga saat ini belum ada pihak keluarga yang menjenguknya. Hal itu karena Ayi tidak ingin keluarganya kerepotan lantaran kondisinya saat ini yang lumpuh.

 

Sebelumnya, KM Labobar yang membawa 2.349 WNI Overstay dan TKI dari Jeddah, Arab Saudi telah tiba di pelabuhan Tanjung Priok pada Rabu 4 Mei 2011 kemarin. Banyak TKI yang mengalami gangguan kesehatan termasuk bayi dan balita yang mengidap penyakit infeksi saluran pernapasan (ISPA).

 

Setibanya di pelabuhan Tanjung Priok, Pemerintah telah menyiapkan 20 unit ambulans, 5 unit di antaranya dari KKP Tanjung Priok, masing masing ambulans didampingi oleh seorang dokter dan seorang petugas kesehatan, menyiapkan pos kesehatan dengan 50 tempat tidur.

 

Mereka yang sakit kemudian dirujuk ke 6 rumah sakit, yakni RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso (RSPI), RSCM, RSUP Persahabatan, RS Jiwa Suharto Heerdjan Grogol, RS Koja, dan RS Polri Kramatjati. (put)

Repost 0
December 23 2010 5 23 /12 /December /2010 01:35
By dede.suryana, okezone.com, Updated: 12/22/2010 7:16 AM

Ditolak Rumah Sakit, Pasen Miskin Meninggal

CIREBON - Akibat ditolak pihak rumah sakit dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cirebon, saat mengajukan surat keterangan miskin (SKTM), Tati Nurhayati, seorang pasien miskin akhirnya menghembuskan napas terakhir.

 

Informasi yang berhasil dihimpun, warga Jalan Pamitran Kota Cirebon ini, masuk ke RSUD Gunungjati Minggu 12 Desember lalu. Karena tergolong pasien tidak mampu, pasien yang diagnosa menderita Suspect Hyperthyroid ini selanjutnya mengajukan SKTM.

 

Karena dianggap tidak masuk kategori program live saving, pengajuan pasien keluarga miskin ini juga ditolak pihak Dinas Kesehatan. Setelah mendapat kepastian ditolak, pihak keluarga langsung menghubungi Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, dr Kaptiningsih.

 

"Namun Kadinkes juga menolak dengan alasan sama, yakni tidak masuk program," kata Agus Amino, keluarga pasien, Rabu (22/12/2010).

 

Dikatakannya, Kadinkes Kota Cirebon, dr Kapti malah menyarankan agar pasien tidak perlu mendapat perawatan inap, tapi cukup dengan berobat jalan. Namun, selang beberapa jam kemudian, pasien meninggal dunia.

 

Agus Amino, yang juga aktivis warung diskusi kebangsaan ini menyayangkan meninggalnya pasien gakin akibat penolakan baik dari pihak rumah sakit maupun Dinkes.

 

"Selama ini alasan live saving sering digunakan menjadi alat penjegal pasien gakin. Padahal adanya live saving jelas berarti untuk menyelematkan hidup," tegas Agus.

 

Dikatakan, istilah live saving dalam dunia kesehatan atau kedokteran digunakan sebagai upaya penyelematan hidup dan yang lebih mengetahui kriteria live saving adalah dokter dengan diagnosa sementara maupun tetap.

 

"Selama ini Live saving malah sering kali dijadikan alat agar pasien gakin tidak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan di RSUD Gunungjati karena dinkes menolak memberikan rekomendasi fasilitas SKTM bagi pasien gakin yang akan berobat. Padahal selama ini sudah ada rujukan dari Puskesmas," kata Agus.

 

Agus yang juga kader PDIP Kota Cirebon tersebut menyesalkan kurangnya koordinasi antara pihak RSUD Gunungjati dengan Dinkes. Terlebih hal ini menyangkut keselamatan jiwa pasien.

Repost 0

Overview

  • : CAKRAWALA JAGAD RAYA- SOLIDARITAS ANTI KORUPSI
  • CAKRAWALA JAGAD RAYA- SOLIDARITAS ANTI KORUPSI
  • : BLOG SOLIDARITAS ANTI KORUPSI - Ungkapan dan pandangan tentang berbagai permasalahan sosial, ekonomi, kemasyarakatan, lingkungan hidup, praktek penyelenggaraan negara sebagai akibat dari tindak pidana korupsi serta fenomena-fenomena terkait.
  • Contact

Profile

  • Harsudi CH
  • Anak bangsa yang miris melihat kondisi sosial ekonomi di negeri tercinta Indonesia. Tidak bisa berbuat banyak kecuali mengajak sesama anak bangsa untuk mulai sadar dan peduli melawan  korupsi yang semakin menggurita di Bumi Ibu Pertiwi ini.
  • Anak bangsa yang miris melihat kondisi sosial ekonomi di negeri tercinta Indonesia. Tidak bisa berbuat banyak kecuali mengajak sesama anak bangsa untuk mulai sadar dan peduli melawan korupsi yang semakin menggurita di Bumi Ibu Pertiwi ini.

KORUPSI ADALAH NAFAS KEHIDUPAN MAYORITAS PENYELENGGARA NEGARA

addesign-copy-1http://blog-indonesia.com/image/badge_3dyellow.gif

ANNOUNCEMENT

Archives

TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF
HILANG HARAPAN ANAK INDONESIA AKIBAT KORUPSI

.

Clipping - Politik / Korupsi

Categories

SHOLAT TIMES