Overblog Follow this blog
Edit page Administration Create my blog
/ / /

Rabu, 10 Februari 2010, 11:06 WIB
Amril Amarullah
Mayat bayi perempuan dalam gendongan setelah disandera (Ikhsan Mahmudi | Surabaya Post)

SURABAYA POST -- Miris melihat kasus yang menimpa Zubaidah warga Dusun Bataan, Desa Kertosono, Kec. Gading, Kab. Probolinggo. Nyawa Bayinya yang baru tiga hari melahirkan tidak dapat diselamatkan.

Ditambah lagi, ditengah himpitan ekonomi yang sulit, membuat Zubaidah harus merelakan bayinya yang tewas harus disandera pihak rumah sakit karena tidak mampu membayar uang perawatan selama tiga hari.

Selama 9 jam mayat bayinya di sandera. Pasangan suami-istri itu hendak membawa pulang mayat bayi yang belum diberi nama itu. Sisi lain, ia harus membayar biaya persalinan dan perawatan selama 3 hari di RSUD sebesar Rp 2,3 juta.

Abdul Karim, ayah bayi itu meminta keringanan biaya, tidak sebesar Rp 2,3 juta. Pihak RSUD kemudian mengurangi biaya perawatan menjadi sekitar Rp 1,98 juta. Itu pun Abdul Karim mengaku masih belum mampu, karena ia hanya membawa uang Rp 950 ribu hasil meminjam ke kerabatnya.

Akhirnya laki-laki paro baya itu bisa membawa pulang bayinya dengan membayar Rp 950 ribu. ”Itu dianggap uang cicilan dari total Rp 1.980.000 yang harus saya lunasi. Itu pun saya harus menyerahkan SIM C sebagai jaminan,” ujarnya.

”Rumah sakit benar-benar keterlaluan. Meski saya orang miskin, saya tidak akan melarikan diri. Hanya sekarang saya memang tidak punya uang,” ujarnya sambil meninggalkan RSUD.

Zubaidah sambil terisak menggendong mayat bayi dengan sebuah jarik beberapa saat kemudian terlihat di RSUD. Abdul Karim kemudian memanggil ojek, untuk membawa pulang Zubaidah yang menggendong mayat bayi.

Beberapa wartawan yang sedang meliput kejadian itu kemudian mengaku tidak tega. Atiq Ali Rahbini, wartawan harian pagi terbitan Surabaya kemudian mengejar ojek yang baru beberapa puluh meter berjalan meninggalkan rumah sakit. Ia kemudian merelakan mobil Panther-nya dinaiki Zubaidah dan mayat bayi. Abdul Karim akhirnya ikut bergabung dalam mobil milik wartawan.

Tidak seberapa lama, mobil anggota DPRD yang sebelumnya sempat dikontak sejumlah wartawan akhirnya berpapasan di tengah jalan. Kedua kendaraan akhirnya berhenti di tepi jalan.

Dua anggota DPRD dari Fraksi PPP, Amin Hadar dan Muhammad Qurays keluar dari mobilnya. ”Maaf, kami terlambat. Kami hanya ingin menyerahkan bantuan kepada keluarga Pak Karim,” ujar Amin Hadar, Sekretaris Fraksi FPP DPRD Kab. Probolinggo.

Ia berharap uang Rp 1 juta itu bisa digunakan untuk melunasi tunggakan rumah sakit. Dan menjelang ashar, jenasah bayi itu akhirnya dikuburkan di pemakaman unum Desa Kertosono.

Laporan: Ikhsan Mahmudi

• VIVAnews

Share this blog

Repost 0
Published by

Overview

  • : CAKRAWALA JAGAD RAYA- SOLIDARITAS ANTI KORUPSI
  • CAKRAWALA JAGAD RAYA- SOLIDARITAS ANTI KORUPSI
  • : BLOG SOLIDARITAS ANTI KORUPSI - Ungkapan dan pandangan tentang berbagai permasalahan sosial, ekonomi, kemasyarakatan, lingkungan hidup, praktek penyelenggaraan negara sebagai akibat dari tindak pidana korupsi serta fenomena-fenomena terkait.
  • Contact

Profile

  • Harsudi CH
  • Anak bangsa yang miris melihat kondisi sosial ekonomi di negeri tercinta Indonesia. Tidak bisa berbuat banyak kecuali mengajak sesama anak bangsa untuk mulai sadar dan peduli melawan  korupsi yang semakin menggurita di Bumi Ibu Pertiwi ini.
  • Anak bangsa yang miris melihat kondisi sosial ekonomi di negeri tercinta Indonesia. Tidak bisa berbuat banyak kecuali mengajak sesama anak bangsa untuk mulai sadar dan peduli melawan korupsi yang semakin menggurita di Bumi Ibu Pertiwi ini.

KORUPSI ADALAH NAFAS KEHIDUPAN MAYORITAS PENYELENGGARA NEGARA

addesign-copy-1http://blog-indonesia.com/image/badge_3dyellow.gif

ANNOUNCEMENT

Archives

TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF
HILANG HARAPAN ANAK INDONESIA AKIBAT KORUPSI

.

Clipping - Politik / Korupsi

Categories

SHOLAT TIMES