Overblog Follow this blog
Edit post Administration Create my blog
October 7 2012 1 07 /10 /October /2012 23:56

Ia adalah penyidik yang berperan penting membuka kasus Simulator SIM.

Minggu, 7 Oktober 2012, 23:49 Elin Yunita Kristanti, Syahrul Ansyari, Siti Ruqoyah
Penyidik KPK, Komisaris Polisi Novel Baswedan

VIVAnews – Minggu 7 Oktober 2012 pagi. Ribuan orang  berpakaian hitam-putih menyemut di Bundaran Hotel Indonesia. Spanduk-spanduk bertebaran, di antaranya bertuliskan “Save KPK”, juga spanduk berisi pertanyaan yang diajukan ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, “Ke mana Presiden kita?”. 

Massa yang mengatasnamakan diri “Semut Rangrang” menghadap ke sebuah panggung, tempat Slank, Once, dan seniman lain bernyanyi, juga ajang orasi para tokoh dan perwakilan massa.

Acara tersebut, konser bertajuk  “Save KPK”, adalah lanjutan aksi di gedung komisi antikorupsi Jumat malam 5 Oktober 2012 hingga Sabtu dini hari. Tujuannya, memprotes keras tindakan sejumlah polisi yang hendak menangkap Kompol Novel Baswedan, penyidik KPK.  Selain gerakan #Save KPK, di Twitter juga muncul gerakan moral menyelamatkan Novel, dengan hastag, #Savenovel.

Upaya penangkapan Novel hanya beberapa jam setelah Inspektur Jenderal Djoko Susilo, jenderal bintang dua aktif yang ditetapkan sebagai tersangka kasus simulator SIM, beranjak dari Gedung KPK. 

Oleh Polda Bengkulu, tempatnya pernah bertugas, Kompol Novel dijerat dengan kasus pidana penembakan tahanan yang terjadi tahun 2004, delapan tahun lalu. Alasannya, ada laporan dari korban dan LSM. Dugaan kriminalisasi pun lantas merebak.

“Ini adalah pemberantasan korupsi melawan koruptor. Yang kita perangi adalah koruptor bukan institusi Polri,” kata Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan, yang juga sepupu Kompol Novel, dalam orasinya Minggu siang.

Siapa sebenarnya Novel?

Kompol Novel adalah penyidik yang berperan penting dalam mengungkap kasus dugaan korupsi proyek simulator ujian Surat Izin Mengemudi Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri.

Dia juga yang menyidik skandal korupsi yang melibatkan mantan Bendahara Partai Demokrat, M. Nazaruddin, yang kemudian menyeret banyak tokoh. Pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah  itu juga salah satu dari lima penyidik yang memilih bertahan di komisi antikorupsi, saat Polri menarik 15 polisi yang diperbantukan di KPK.

Perwira lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1998 itu pernah bertugas di Polres Bengkulu pada 1999-2005. Pada tahun 2004, terjadi kasus penembakan terhadap enam pencuri sarang burung walet di Bengkulu. Kala itu Novel menjabat Kasatserse Polres Bengkulu. Salah seorang di antara enam tersangka itu akhirnya tewas. Setahun kemudian, Novel ditarik ke Jakarta dan ditugaskan sebagai penyidik KPK dari unsur Polri. Kasus itulah yang jadi alasan tim Polri mendatangi KPK.

Menanggapi tindakan Polri itu, keluarga Novel mengungkapkan kekecewaannya. Mereka menduga, Polri berupaya mengkriminalisasi cucu pahlawan, AR Baswedan itu.  Apalagi, sebelum upaya jemput paksa terjadi, sejumlah teror dan ancaman dialamatkan pada Novel.

“Dari awal secara terang-terangan diteror dan diancam, baik saat melaksanakan tugas maupun di rumahnya,” kata Hafidz Baswedan, adik kandung Novel, dalam keterangan tertulis yang diterima VIVAnews, 6 Oktober 2012.

Salah satunya, Novel diperintah agar menghadap Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri, Irjen Pol. Sutarman, melalui seorang suruhan. "Ancamannya, dia akan dikriminalisasi jika tidak menghadap pada hari Sabtu, 29 September 2012. Ancaman itu terwujud pada Jumat malam, 5 Oktober 2012," ucap Hafidz.

Sebelumnya, kakak Novel, Taufik Baswedan, juga mengatakan ada berbagai ancaman terhadap Novel dari orang-orang tak dikenal. “Novel mendapat ancaman dari sekitar dua sampai tiga orang. Tidak tahu dari mana. Mereka datang dan membawa foto-foto,” ujar Taufik, Jumat, 5 Oktober 2012.

Oleh karena itulah di rumah Novel di kawasan Kelapa Gading dipasang banyak CCTV.

Dugaan kriminalisasi juga diungkapkan sebelumnya oleh Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Bambang Widjojanto. Dia menyatakan bahwa Novel Baswedan bukan pelaku penganiayaan tahanan di Polres Bengkulu pada 2004. Anak buahnya lah yang melakukan kesalahan hingga menyebabkan nyawa tahanan itu meninggal dunia.

Tapi, sebagai atasan, Novel yang mempertanggungjawabkan tindakan itu. “Kasus ini sudah melalui proses pengadilan kode etik, dan sudah dinyatakan selesai pada 2004,” kata Bambang kepada wartawan dalam konferensi pers, di kantornya, Jalan HR Rasuna Said, Sabtu dini hari, 6 Oktober 2012.


Apalagi, Novel saat ini merupakan penyidik yang berperan dalam pengungkapan kasus dugaan korupsi proyek simulator ujian Surat Izin Mengemudi Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri. “Ini bagian dari salah satu upaya kriminalisasi KPK,” kata Bambang.


Terkait kasus ini,  mantan Kapolda Metro Jaya, Komisaris Jenderal (Purn) Noegroho Djajoesman, menilai tidak ada yang salah sikap polisi terkait dengan penangkapan kompol Novel.


"Itu merupakan permasalahan di internal Polda Bengkulu. Apa urusannya dengan kriminalisasi KPK? Sekarang saya tanya, apakah saudara Novel itu seorang anggota polisi atau PNS?,” tandasnya, Minggu 7 Oktober 2012.


Dia meminta agar permasalahan tersebut harus dilihat secara jelas, jangan dibolak-balik dan akhirnya akan menyesatkan opini publik. Untuk membuktikan harus melalui proses penyidikan dan peradilan. “Jangan menghubung-hubungkan kasus Novel ini dengan kasus Irjen Djoko Susilo. Apalagi, sampai dituding ingin melemahkan KPK. Saya tidak setuju sama sekali pendapat seperti ini. Di mana unsur pelemahannya kepada KPK?” jelas dia.


Sebelumnya, Kepala Badan Reserse dan Kriminal Polri Komisaris Jenderal Polisi Sutarman, juga membantah tudingan kriminalisasi KPK. “Kriminalisasi itu artinya, membuat suatu perbuatan yang tadinya bukan kriminal menjadi kriminal. Tapi kalau orang melakukan tindakan pelanggaran hukum harus kita tegakkan,” kata mantan Kapolda Metro Jaya ini.


Sutarman mengakui, sidang disiplin terhadap Novel sudah dilakukan. Tetapi itu tidak menggugurkan pidana yang bersangkutan sebagai anggota Polri.


Lantas mengapa polisi yang diduga melakukan tindakan pidana lolos selama 8 tahun, bahkan ditugaskan ke KPK? “Kadang-kadang kami tidak bisa merekam seperti itu. Personel kami ada 400 ribu lebih. Catatan-catatan seperti ini mungkin ada yang tertinggal, “ kata Sutarman.

Yang jelas, Kabareskrim mengatakan, pihaknya akan menangkap paksa Novel jika KPK tak menyerahkan kepada kepolisian. “Itu ada aturan lain. Kalau (KPK) nggak memberikan ya ditangkap, karena melanggar hukum. Itu bukan persoalan.”


Terkait Perseteruan dua institusi penegak hukum itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan menyampaikan pernyataannya, Senin malam, 8 Oktober 2012. Demikian disampaikan Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi didampingi Seskab Dipo Alam, dan Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha

"Berhubung perkembangan situasi sudah semakin tidak baik, banyak yang memanipulasi seperti yang kita ketahui bersama, maka Presiden akan segera mengambil alih dan memberikan penjelasan kepada masyarakat. Besok, hari Senin, 8 Oktober atau paling lambat Selasa siang 9 Oktober," kata Sudi Silalahi, Menteri Sekretaris Negara, di Kantor Presiden, Minggu 7 Oktober 2012.

Share this post

Repost 0
Published by Admin - in BERITA KORUPSI
write a comment

comments

online Jobs data entry 10/10/2012 05:44

Thanks a lot for those tips!

Overview

  • : CAKRAWALA JAGAD RAYA- SOLIDARITAS ANTI KORUPSI
  • CAKRAWALA JAGAD RAYA- SOLIDARITAS ANTI KORUPSI
  • : BLOG SOLIDARITAS ANTI KORUPSI - Ungkapan dan pandangan tentang berbagai permasalahan sosial, ekonomi, kemasyarakatan, lingkungan hidup, praktek penyelenggaraan negara sebagai akibat dari tindak pidana korupsi serta fenomena-fenomena terkait.
  • Contact

Profile

  • Harsudi CH
  • Anak bangsa yang miris melihat kondisi sosial ekonomi di negeri tercinta Indonesia. Tidak bisa berbuat banyak kecuali mengajak sesama anak bangsa untuk mulai sadar dan peduli melawan  korupsi yang semakin menggurita di Bumi Ibu Pertiwi ini.
  • Anak bangsa yang miris melihat kondisi sosial ekonomi di negeri tercinta Indonesia. Tidak bisa berbuat banyak kecuali mengajak sesama anak bangsa untuk mulai sadar dan peduli melawan korupsi yang semakin menggurita di Bumi Ibu Pertiwi ini.

KORUPSI ADALAH NAFAS KEHIDUPAN MAYORITAS PENYELENGGARA NEGARA

addesign-copy-1http://blog-indonesia.com/image/badge_3dyellow.gif

ANNOUNCEMENT

Archives

TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF
HILANG HARAPAN ANAK INDONESIA AKIBAT KORUPSI

.

Clipping - Politik / Korupsi

Categories

SHOLAT TIMES