Overblog Follow this blog
Edit post Administration Create my blog
March 26 2012 2 26 /03 /March /2012 22:09

21.03.2012 10:48

Faisal Rachman 

JAKARTA - Melonjaknya harga minyak dunia seharusnya tidak dijadikan alasan pemerintah untuk menaikkan harga BBM bersubsidi. Di luar dugaan, ternyata di tengah kenaikan harga minyak dunia dan lifting minyak yang lebih rendah dari target sekalipun, neraca minyak dan gas (migas) Indonesia masih mengalami surplus.


Pemerintah hanya memanfaatkan naiknya harga minyak dunia sebagai alasan yang seakan masuk akal untuk menaikkan harga BBM bersubsidi. Padahal langkah itu ternyata hanya menutupi ketidakefisienan dalam belanja pemerintah, yakni untuk menambal defisit pada pos anggaran lain yang membengkak dalam APBN.


Pendeknya, masyarakat dibebankan untuk membayar BBM lebih mahal agar pos belanja lainnya dalam APBN terpenuhi dan defisit anggaran tak melebihi 3 persen sesuai ketentuan.


"Jika bicara neraca minyak dan gas, ada surplus dari operasi minyak. Artinya, pemerintah punya banyak uang, apalagi ditambah gas yang diekspor. Namun, karena memperhitungkan APBNP (2012) secara keseluruhan dan surplusnya dipakai banyak keperluan lain, seperti bayar gaji pegawai dan sebagainya, APBN-P jadi negatif," ujar Ekonom Universitas Gajah Mada Anggito Abimanyu di Jakarta, Selasa (20/3).


Anggito memaparkan, dalam APBN 2012 yang mematok harga ICP US$ 90 dengan lifting 950.000 barel per hari dan TDL naik 10 persen, pendapatan negara dari Pph Migas, Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) Migas, dan bagian dari Domestic Market Obligation (DMO) tercatat Rp 231,1 triliun. Dengan besaran itu net migas tercatat surplus Rp 96,8 triliun.


Jika diseuaikan dengan kondisi dalam APBN-P 2012 yang mematok harga ICP di kisaran US$ 105 per barel dan lifting 930.000 barel per hari, pendapatan migas dari Pph Migas, PNBP, dan DMO menjadi Rp 265,9 triliun. Dengan jumlah itu, net migas memang menurun, namun masih tercatat surplus Rp 68,8 triliun.


Namun, lantaran perhitungan surplus defisit anggaran tetap harus dihitung semuanya dari total APBN, neraca migas jadi tak terlihat positif lantaran tak mampu menutup defisit di pos lainnya. "Jadi itu menutup pos lainnya, dikembalikan ke pos anggaran untuk migas dan nonmigas," katanya.


Anehnya, pemerintah seakan menutupi penjelasan ini dan hanya menyalahkan kondisi kenaikan harga minyak dunia yang memaksa harga BBM bersubsidi harus dinaikkan. "Jika BBM tak dinaikkan, APBN akan jebol. Jadi menaikkan harga BBM bersubsidi ini untuk menyelamatkan negara," kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik.


Padahal, selain naiknya beban subsidi, anggaran lain dari belanja pemerintah pusat juga naik. Dalam APBNP 2012 belanja pemerintah pusat malah bertambah 9,7 persen menjadi Rp 1.058,32 triliun atau naik Rp 93,32 triliun dari sebelumnya Rp 965 triliun.


Dari jumlah tersebut masih didominasi belanja rutin kementerian/lembaga (K/L), seperti pembayaran gaji dan belanja lainnya. "Seharusnya, lebih gampang memang jika memotong banyak anggaran K/L," ujar Anggito.


Namun, pemerintah sudah mengatakan hanya mampu menghemat anggaran K/L pada 2012 sebesar Rp 18,9 triliun. "Jadi ada anggaran yang dipotong Rp 18,9 triliun dari rencananya mau potong Rp 22 triliun," tutur Menteri Keuangan Agus Martowardojo.


Pemerintah memang dinilai tidak matang dalam menyusun perencanaan APBN 2012. Pasalnya target-target yang ada dalam APBN sangat berubah jauh dari APBN-P yang diajukan saat ini. "Ini sudah bukan lagi RAPBN-P, tapi membuat APBN baru hanya dalam waktu satu bulan dengan perubahan banyak dan rumit," kata Anggito.


Salah satu yang disoroti adalah untuk subsidi listrik. Dalam APBN 2012 pemerintah hanya menganggarkan sekitar Rp 44 triliun dan melambung menjadi Rp 98 triliun di APBN-P 2012.


"Subsidi listrik dalam APBN 2012 hanya Rp 44 triliun, angka itu terlalu heroik. Pemerintah tampak begitu yakin bisa mendapatkan batu bara dan gas untuk produksi listrik," tutur mantan kepala BKF tersebut.


Padahal, ia berpendapat, kenaikan TDL ini lebih perlu dilakukan saat ini dibandingkan dengan kenaikan BBM subsidi. Pasalnya, setiap kenaikan BBM akan berpengaruh terhadap TDL, namun tidak berlaku sebaliknya.(SH)

Share this post

Repost 0
Published by Admin - in BERITA KORUPSI
write a comment

comments

Overview

  • : CAKRAWALA JAGAD RAYA- SOLIDARITAS ANTI KORUPSI
  • CAKRAWALA JAGAD RAYA- SOLIDARITAS ANTI KORUPSI
  • : BLOG SOLIDARITAS ANTI KORUPSI - Ungkapan dan pandangan tentang berbagai permasalahan sosial, ekonomi, kemasyarakatan, lingkungan hidup, praktek penyelenggaraan negara sebagai akibat dari tindak pidana korupsi serta fenomena-fenomena terkait.
  • Contact

Profile

  • Harsudi CH
  • Anak bangsa yang miris melihat kondisi sosial ekonomi di negeri tercinta Indonesia. Tidak bisa berbuat banyak kecuali mengajak sesama anak bangsa untuk mulai sadar dan peduli melawan  korupsi yang semakin menggurita di Bumi Ibu Pertiwi ini.
  • Anak bangsa yang miris melihat kondisi sosial ekonomi di negeri tercinta Indonesia. Tidak bisa berbuat banyak kecuali mengajak sesama anak bangsa untuk mulai sadar dan peduli melawan korupsi yang semakin menggurita di Bumi Ibu Pertiwi ini.

KORUPSI ADALAH NAFAS KEHIDUPAN MAYORITAS PENYELENGGARA NEGARA

addesign-copy-1http://blog-indonesia.com/image/badge_3dyellow.gif

ANNOUNCEMENT

Archives

TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF
HILANG HARAPAN ANAK INDONESIA AKIBAT KORUPSI

.

Clipping - Politik / Korupsi

Categories

SHOLAT TIMES