Overblog Follow this blog
Edit post Administration Create my blog
June 6 2011 2 06 /06 /June /2011 21:53

Senin, 06/06/2011 09:22 WIB


Dibuat Bingung Nunun (1)
Kejarlah Nunun Sampai ke Negeri Gajah 
Deden Gunawan - detikNews

 Kejarlah Nunun Sampai ke Negeri Gajah


KPK telah mengirimkan surat permintaan ekstradisi untuk Nunun ke pemerintah Thailand melalui KBRI di Bangkok. Kementerian Hukum dan HAM pun telah mencabut paspor Nunun. Dengan demikian, Nunun saat ini diibaratkan sebagai pendatang gelap di negeri orang yang bisa ditangkap pemerintah Thailand untuk kemudian diserahkan dan diekstradisi ke Indonesia.

Keberadaan Nunun di Bangkok, memang membuka peluang bagi KPK untuk memulangkan Nunun. Negeri Gajah Putih itu mempunyai perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Bila berada di Thailand, Nunun tidak bisa lagi ongkang-ongkang kaki seperti di Singapura. Negeri Singa itu menjadi surga bagi koruptor dari Indonesia karena belum disepakatinya perjanjian ekstradisi dengan Indonesia.

"Proses pemulangan Nunun tinggal menunggu hasil persidangan. Kami berharap persidangan itu bisa dilakukan dalam waktu dekat. Sehingga Nunun bisa segera diekstradisi ke Indonesia," kata Duta Besar Republik Indonesia untuk Thailand, Muhammad Hatta kepada detikcom.

Meski optimisme tinggi, memulangkan Nunun ternyata tidak bisa dilakukan sesuka hati. Dalam perjanjian ekstradisi, Kerajaan Thailand mengharuskan pemohon ekstradisi harus mengirimkan berkas pembuktian keterlibatan tersangka terhadap kasus yang dituduhkan. Setelah diproses di persidangan, baru diketahui apakah permintaan itu disetujui atau tidak.

"Tapi kami secara diplomatik sudah meyakinkan pemerintah Thailand soal pentingnya Nunun dimintai keterangan dalam kasus suap DGS BI yang sedang ditangani KPK. Dan sepertinya mereka (pemerintah Thailand) akan membantu keinginan KPK," jelas Hatta.

Menyimak kasus Nunun memang melelahkan. Sejak kasus suap DGS BI digulirkan Agus Condro 2 tahun lalu, KPK tidak kunjung bisa memeriksa Nunun. Baik untuk dimintai klarifikasinya apalagi diminta kesaksiannya di Pengadilan Tipikor. Dengan beralasan sakit lupa, Nunun tidak pernah memenuhi panggilan KPK.

Sayangnya KPK pun terkesan tidak bisa berbuat apa-apa dengan alibi Nunun. Sekalipun dalam proses persidangan, nama Nunun sering disebut-sebut. Ia dituding sebagai orang yang menyalurkan cek pelawat melalui Arie Malangjudo ke Dudhie Makmun Murod, pada Juni 2004.

Uang sebesar Rp 9,8 miliar itu kemudian disalurkan Dudhie ke seluruh anggota Komisi IX DPR periode 1999-2004. Cek itu merupakan imbalan untuk memilih Miranda sebagai DGS BI pada 2004. Ke 26 anggota DPR yang kecipratan cek pelawat yang ditebar Nunun sejak September tahun lalu, telah ditetapkan sebagai tersangka. Mereka berasal dari tiga fraksi, yakni Fraksi Golkar, Fraksi PDI Perjuangan, dan Fraksi PPP.

Selain 26 mantan anggota Dewan itu, mantan anggota DPR lainnya sudah divonis dengan hukuman beragam. Hamka Yandhu, Dudhie Makmun Murod, Udju Juhaeri, dan Endin AJ Soefihara divonis antara satu hingga 2,5 tahun penjara.

Beda dengan penerima suap, Nunun yang membagikannya justru masih bisa melenggang bebas. Komisaris PT Wahana Esa Sejati itu, baru ditingkatkan statusnya sebagai tersangka pada Februari lalu. Nunun dijerat dengan pasal penyuapan yang diatur dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Kini setelah tiga bulan lebih dijadikan tersangka, KPK juga tidak berhasil membawa pulang Nunun. Saat ini, KPK bahkan belum bisa memastikan apakah Nunun berada di Singapura atau Thailand.

Mohammad Hatta juga ragu Nunun berada di Bangkok. Ia mengaku belum pernah melihat Nunun di Bangkok. Hatta hanya mendengar Nunun sempat mampir ke Bangkok dan Phnom Penh. Hanya saja informasi itu baru selentingan saja. "Tapi kita (KBRI) tidak pernah lihat. Namanya juga saya cuma dengar, kurang bisa dipastikan kebenarannya," jelas Hatta

Meski demikian KPK mengaku terus memantau perkembangan Nunun, termasuk soal keberadaannya. "Kita terus memantau keberadaan Nunun. Informasi-informasi masih terus kami kumpulkan," terang Wakil Ketua KPK Haryono Umar kepada detikcom.

Kesimpang-siuran posisi Nunun semakin menunjukkan KPK tidak berdaya untuk menyeret Nunun. Banyak kalangan pun tidak yakin KPK serius menuntaskan kasus Nunun. Mereka juga pesimistis KPK akan mampu memulangkan Nunun.

Koordinator Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman misalnya tidak
yakin istri Adang itu bisa dipulangkan. Anggota Komisi III DPR Ahmad Yani juga berpandangan sama.

Menurut Ahmad Yani, ramainya pemberitaan Nunun di Bangkok hanya akal-akalan KPK saja. Ia justru yakin Nunun masih berada di Singapura. "Siapa bilang Nunun di Bangkok? Apa KPK melihat keberadaan Nunun di sana?" ujar politisi PPP itu kepada detikcom.

Ahmad Yani meminta KPK lebih baik mendatangi saja rumah sakit di mana Nunun diperiksa. "Kalau mau kelihatan bekerja seharusnya KPK datang dong ke rumah sakit. Cek apakah Nunun benar-benar sakit atau tidak. Jangan hanya ngomong saja," kritik Ahmad Yani.

(ddg/iy)


 

Senin, 06/06/2011 09:46 WIB


Dibuat Bingung Nunun (2)
Ke KPK Amnesia, Kalau Shopping Ayo Saja  
M. Rizal,Deden Gunawan - detikNews

 Ke KPK Amnesia, Kalau Shopping Ayo Saja

Jakarta - Benarkah Nunun Nurbaeti menderita penyakit lupa berat? Sang suami, Adang Daradjatun menyatakan istrinya menderita amnesia. Tapi kalau dia lupa berat kenapa ia masih suka jalan-jalan ke mall dan tidak lupa pulang? Ia juga bisa bolak-balik Singapura-Thailand?

Mantan dokter Nunun, dr Andreas Harry, meyakinkan tersangka suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS BI) itu memang benar-benar menderita amnesia alias sakit lupa berat. Andreas menangani Nunun sejak September 2006.

Menurut Andreas, sakit lupa Nunun akibat terserang stroke pada 25 Juli 2009. Stroke ini memperparah penyakit Nunun sehingga Andreas merujuknya untuk berobat ke Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura. Nunun ke negeri Singa itu pada 23 Februari 2010 dan hingga kini tidak pernah kembali hingga KPK kelimpungan memeriksanya sebagai tersangka.

"Semua ada bukti medisnya. Sejak kena stroke dan tidak ada perbaikan, ibu sakit amnesia," terang Andreas.

Sakit lupa Nunun memang sudah lama menjadi gunjingan. Bagi kalangan politisi, praktisi hukum apalagi para sosialita, sakit pelupanya Nunun menjadi tanda tanya. Apalagi sakit lupa itu terungkap setelah Nunun disebut-sebut terkait dalam kasus suap pemilihan DGS BI.

Sejumlah kalangan tidak percaya Nunun benar-benar sakit lupa. Banyak kesaksian meskipun lupa, Nunun terlihat baik-baik saja dan sibuk belanja di Singapura. Mantan Menteri Perindustrian Fahmi Idris misalnya banyak mendapatkan cerita dari teman-teman Nunun bila istri mantan Wakapolri Adang Daradjatun itu baik-baik saja.

"Teman-temannya bilang seperti itu. Profesor yang saya tidak mau sebut namanya, dia juga mengatakan Nunun hanya stress saja dan bukan berarti hilang ingatan. Itu keterangan seorang ahli syaraf top. Kebetulan itu teman saya," kata Fahmi pada Februari lalu.

Tentu saja kabar Nunun baik-baik saja dibantah oleh Adang dan dr Andreas. Menurut Adang, istrinya memang mengalami amnesia. Nunun sama sekali tidak tahu-menahu perihal cek perjalanan yang telah dibagikan kepada sejumlah (mantan) anggota DPR tersebut.

"Saya pernah nanya ibu apa yang sebenarnya terjadi. Dia jawab, saya tidak tahu sama sekali. Dia juga tidak tahu soal AM (mantan staf Nunun, Arie Malangjudo) memberikan travelers cheque (cek perjalanan) itu," kata Adang.

Dr Andreas juga menegaskan meski terlihat jalan-jalan di mall, bukan berarti Nunun sehat-sehat saja. Menurut Andreas, sakit lupa Nunun masih tetap memungkinkannya untuk melakukan aktivitas fisik seperti biasa.

"Memang kalau orang sakit nggak boleh ke mall atau shopping? Pasien ini (Nunun) bukan cacat fisik yang tidak bisa jalan. Pasien ini cognitive decline," terang ahli syaraf dari Rumah Sakit Gading Pluit ini kepada detikcom.

Andreas mengaku sudah tidak menangani Nunun lagi sejak 3 Mei 2010. Meski begitu, saran medis tetap diberikan sesekali pada istri Adang itu. "Harusnya 6 bulan kontrol, tapi sekarang belum ada kabar," jelasnya.

Andreas juga menampik diagnosis yang diberikannya untuk kondisi Nunun terkait dengan tekanan politik atau ada modus tertentu. Andreas mengatakan diagnosisnya murni secara profesional. "Saya tidak mencampuri aspek hukum atau pun politiknya," tutur Andreas.

Pengacara Nunun, Partahi Sihombing pun sewot sakit pelupa kliennya tidak dipercaya. Ia sangat kecewa Kemenkum HAM mencabut paspor Nunun. "Pencabutan paspor itu sangat mempermalukan seorang warga negara kita, apalagi dalam kondisi sakit dan itu ada keterangan dari dokternya, tapi seolah-olah itu tidak dipercaya," keluh Partahi.

Adang, dokter Andreas dan pengacaranya boleh saja meyakinkan Nunun memang menderita penyakit lupa berat. Tapi sekretaris Nunun, Sumarni, memberi kesaksian lain. Nunun hanya vertigo. Bagi Sumarni, Nunun tidak lupa ingatan sepenuhnya. Buktinya Nunun masih mengingat Sumarni saat mengantarkan obat ke Singapura 2010 lalu.

Saat itu Sumarni langsung mengantarkan obat ke apartemen milik Nunun di Singapura seharga Rp 15 miliar itu. "Sempat ngobrol sebentar. Tanya apa kabar, cuma itu saja," terang Sumarni.

Menurut Sumarni, karena sakit vertigo itu, Nunun sering jatuh tiba-tiba termasuk saat shoping di mall. Maka itu Nunun masih mengonsumsi obat yang dikirim dari Indonesia salah satunya dari dokter Jusuf Misbach."Dari Prof Jusuf Misbach, ada tiga obat.Di box obatnya ada tulisan untuk seloyongan (sempoyongan-red)," ucapnya.

Hingga kini KPK masih memburu Nunun untuk dipulangkan ke Indonesia. Adang masih merahasiakan di mana keberadaan sang istri. Bila ditanya di mana sang istri berada, Adang bercanda saja. "Nunun selalu di hati saya," seloroh Adang.

Pengacara kondang Todung Mulya Lubis meminta Adang agar kooperatif mengusahakan kehadiran istrinya. Adang memang memiliki hak untuk melindungi istrinya, tapi sebagai mantan Wakapolri, Adang semestinya memberi contoh taat hukum. "Sebagai anggota DPR dia harusnya menjadi teladan bagi semua dalam menghormati proses hukum," kata Todung.

(iy/iy)

 

 

Senin, 06/06/2011 12:16 WIB


Dibuat Bingung Nunun (3)
Nunun Lupa Demi Suami Atau Siapa 
Deden Gunawan,Iin Yumiyanti - detikNews

 

Jakarta - Ada asap, ada api. Ada penerima, tentunya ada pemberi. Satu per per satu penerima cek pelawat dalam proses pemilihan Deputi Gubernur Senior (DGS) BI 2004 disidangkan. Bahkan beberapa di antaranya sudah divonis. Tapi anehnya siapa pemberi suap itu masih misteri.


KPK memang telah menetapkan Komisaris PT Wahana Esa Sejati Nunun Nurbaeti sebagai tersangka pemberian suap DGS BI. Istri mantan Wakapolri Adang Daradjatun itu, diduga sebagai pihak yang membagi-bagikan 480 lembar cek pelawat senilai Rp 34 miliar kepada anggota Komisi XI DPR. Komisi Keuangan inilah yang melakukan uji kepatutan dan kelayakan 3 kandidat calon DGS BI, yang akhirnya dimenangkan Miranda S Goeltom.

Cek pelawat diberikan Nunun lewat Arie Malangjudo. Arie merupakan Direktur PT Wahana Esa Sejati. Jadi Nunun, dalam kasus ini, merupakan tokoh kunci. Dari mulutnya diharapkan akan ketahuan dalang suap cek pelawat itu.

Sebagai pihak yang membagi-bagikan cek, Nunun tentunya mengetahui asal muasal cek itu. Kesaksian Nunun nantinya bisa mengait, mengular, menyingkap misteri siapa pemberi cek itu. "Sejak awal saya bilang, bila ada asap pasti ada apinya," kata Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri menanggapi ditetapkannya Nunun sebagai tersangka.

Banyak kalangan menganggap janggal tindakan KPK dalam menangani Nunun. KPK bahkan dicap tebang pilih karena begitu lambat menetapkan istri Adang ini sebagai tersangka. Nunun baru ditetapkan sebagai tersangka setelah 2 tahun kasus ini disidik.

Padahal sejak awal kasus ini bergulir, Arie Malangjudo, yang mengantarkan uang untuk para anggota komisi IX DPR periode 1999-2004, mengakui Nununlah yang menyuruhnya membagikan cek pelawat itu. KPK pun dituding terlibat skenario besar untuk melindungi Nunun dan pihak-pihak di belakangnya.

"Mungkin saja ada 'orang besar' di balik suap terhadap sejumlah anggota DPR dalam pemilihan DGS BI,"kata anggota Komisi III DPR Didi Irawadi Syamsuddin.

Dugaan skenario juga diungkapkan Koordinator Masyarakat Anti-Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman. Skenario inilah yang membuat Nunun bisa leluasa pergi ke Singapura tanpa bisa disentuh oleh KPK. Kuat dugaan skenario penyelamatan Nunun lantaran ia adalah istri mantan Wakapolri Adang Daradjatun.

"Harus diketahui semua penyidik KPK itu polisi. Polisi yang ada di KPK itu yang tertinggi hanya bintang dua, bagaimana tidak tunduk dan sungkan pada Adang. Mereka penyidik itu memiliki kepentingan untuk melindungi istri temannya, yang seorang jenderal polisi," duga Boyamin.

Selain bermotif sungkan, skenario lainnya adalah, untuk memutus penyidikan supaya tidak menyentuh "orang besar" yang ada di balik aksi suap itu. Siapa "orang besar" itu? Ada dugaan orang besar itu adalah Adang sendiri.

Maka itu Adang sengaja merahasiakan keberadaan sang istri, selain melindungi istri juga untuk melindungi dirinya sendiri. Menurut pengacara para tersangka suap DGS BI dari PDIP, Petrus Selestinus, Nunun membagikan uang kepada para politisi demi karier sang suami.

"Nunun memberikan barang dan uang kepada parpol atau membela Mega-Hasyim agar suaminya bisa menjadi kapolri saja sebenarnya. Jadi tudingan ke suap kasus pemilihan Miranda dipaksakan,” kata Petrus.

Namun analisa Boyamin, "orang besar" itu merupakan petinggi partai atau partai besar, misalnya PDIP. Asumsi Boyamin, PDIP sekalipun saat ini bukan partai penguasa tapi tetap punya kekuatan besar. Salah satu indikasinya, SBY tetap menginginkan untuk koalisi dengan PDIP.. Dengan digantungnya keterlibatan Nunun, penguasa ingin menyandera PDIP yang beroposisi terhadap pemerintah.

Jadi terlunta-luntanya pemeriksaan Nunun, bukan untuk sekadar melindungi Miranda. Perempuan bergaji Rp 200 juta sebulan itu ditengarai hanyalah wayang. Diyakini ada kepentingan lain di belakang Miranda. "Kalau uang Miranda sendiri, tidak cukup untuk membayar suap itu," kata Boyamin.

Uang yang mengalir ke anggota DPR itu diduga merupakan uang saweran pengusaha. Yang jadi bandarnya adalah partai penguasa saat itu,PDIP. Nunun sendiri dalam persidangan disebut sebagai simpatisan PDIP menjelang Pemilu 2004,silam.

Analisa Boyamin tentu tidak asal-asalan. Seperti diketahui, pemilihan DGS BI itu dimenangkan Miranda, maka banyak pihak yang meyakini Miranda merupakan sumber penyebaran cek itu. Miranda yang saat ini belum jadi tersangka mengaku pencalonan dirinya sebagai kandidat DGS BI pada 2004 mendapat dukungan dari Mega yang kala itu masih menjabat presiden.

Sementara di dalam proses hukum, banyak politisi senior PDIP telah ditetap sebagai tersangka dan diadili, antara lain Panda Nababan yang disebut sebagai koordinator pemenangan Miranda. Panda disebut Agus Condro berkawan akrab dengan Miranda, bahkan cium pipi kiri-kanan saat pertemuan untuk membahas pemenangan Miranda di Hotel Dharmawangsa.

Namun PDIP keberatan disebut sebagai pihak yang akan terlindungi bila Nunun tidak buka suara. PDIP merasa tidak pernah membentuk tim untuk memenangkan Miranda."Tidak pernah ada tim," kata Sekjen PDIP Pramono Anung.

Pengacara Nunun, Partahi Sihombing juga membantah ada skenario untuk melindungi kliennya. Kondisi Nunun memang tidak dimungkinkan untuk diperiksa. Sebenarnya keluarga sudah berulangkali meminta KPK untuk membentuk tim dokter independen untuk mengecek kondisi Nunun di RS Singapura. Namun permintaan itu tidak digubris KPK.

Dijelaskan Partahi,kepergian Nunun ke Singapura bukan untuk kabur. Sebab pada pemanggilan pertama oleh KPK, tahun 2009, Nunun hanya dimintai klarifikasi. Belum ada status apapun pada Nunun. Nah, saat pemanggilan kedua datanglah surat dokter yang menyatakan Nunun sakit dan harus dirawat. "Jadi sakitnya Nunun bukan alibi untuk menghindari pemeriksaan KPK," kata Partahi.

(ddg/iy)

 

 

Senin, 06/06/2011 12:49 WIB


Dibuat Bingung Nunun (4)
Aktif di Luar, Nunun Misterius Bagi Warga Sekitar 
M. Rizal - detikNews

 


Itulah rumah Adang Daradjatun dan Nunun Nurbaeti. Nama Nunun mulai mencuat sejak disebut-sebut terlibat dalam kasus suap kepada sejumlah anggota DPR periode 2004-2009 dalam pemilihan Deputi Gubernur Bank Indonesia (DGS-BI) Miranda S Goeltom.

Tidak banyak masyarakat yang tahu siapa sebenarnya Nunun, selain sebagai istri Adang, mantan Wakil Kepala Polri, yang saat ini menjadi anggota DPR FPKS itu.

Di lingkungan rumahnya pun, Nunun menjadi sosok misterius. Ia kurang dikenal para tetangganya. Ia jarang mengobrol atau ikut acara warga. Warga sekitar lebih banyak mengenal Adang yang murah senyum dan sering menyapa tetangganya bila berpapasan.

"Kalau ibu Adang (Nunun) memang jarang kelihatan ngobrol sama ibu-ibu tetangga di sini. Kita sih maklum, mungkin sibuk,” kata Ketua RT 02 Hermanto (50) kepada detikcom.

Keluarga Adang dan Nunun memang tergolong sangat sibuk dan jarang di rumah. Saat detikcom, datang ke rumah itu, Adang pun sedang tidak ada. "Bapak tidak ada di rumah. Beliau memang sibuk sekarang ini," ungkap salah seorang penjaga rumahnya.

Nunun lahir di Sukabumi, Jawa Barat tahun 1951. Nunun menikah dengan Adang pada 27 Februari 1972. Pasangan ini dikarunia tiga orang putra dan satu putri, yaitu Andri Ahmad, Tuza Junius, Ratna Farida dan Mohamad Azara.

Mengingat statusnya sebagai istri pejabat kepolisian, Nunun tentu memiliki pergaulan yang luas. Apalagi Nunun juga seorang pengusaha. Ia komisaris dari PT Wahana Esa Sejati. Di kalangan sosialita, nama Nunun memang dikenal sebagai sosialita papan atas. Ia banyak memiliki usaha dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial.

Nunun antara lain tergabung di dalam Yayasan Mutu Manikam Nusantara, bersama sejumlah istri anggota Kabinet Indonesia Bersatu. Bersama Rosa Rai Djalal, istri Dino Pati Djalal yang saat ini menjabat sebagai Dubes RI di Amerika Serikat, Anita Rusdy, Sendy Dede Yusuf dan Siti Garsiah, Nunun mendirikan Perhimpunan Kebayaku. Ini tidak mengherankan karena Nunun memiliki kegemaran mengoleksi kain dan kebaya kuno atau tradisional, mengoleksi perhiasan, selain mengoleksi puluhan tas merk Hermes.

Sementara bekerjasama dengan Kementerian Sosial dan Kementerian Dalam Negeri, Nunun ikut mendirikan Yayasan Buku Bangsa dan Yayasan Nur Farida.

Untuk menunjang aktivitasnya Nunun sering menyelenggarakan acara kumpul-kumpul dengan sosialita lainnya di Hotel Darmawangsa, Cilandak Town Squere dan Sentul.

Sebagai pengusaha, Nunun yang lulusan Akademi Sekretaris dan Manajemen Indonesia (ASMI) ini mengawali karir bisnisnya dengan mengerjakan proyek di Telkom Divisi Regional II pada tahun 1980-an. Lalu pada tahun 1988, Nunun pun mendirikan perusahaan sendiri bernama PT Wahana Esa Sambadha.

Selanjutnya perusahaan itu memiliki anak perusahaan bernama PT Wahana Esa Sejati, yang bergerak di bidang kelapa sawit. Di anak perusahaan inilah Nunun bertemu dan bekerja bersama Ahmad Hakim Safari Malangjudo atau Arie Malangjudo, yang dalam kasus ini diketahui sebagai orang yang mengantarkan sejumlah traveller's cheque (TC) atau cek pelawat kepada sejumlah anggota DPR.

Namun bagaimana perkembangan dua perusahaan Nunun itu kini tidak jelas kabarnya. Saat detikcom mendatangi perusahaannya yang beralamat di Jl Riau No 17-19, Menteng, Jakarta Pusat, perusahaan itu sudah tidak ada. Hanya saja tempat itu pada 2008 silam menjadi markas pemenangan Adang Daradjatun sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Di tempat ini masih tersisa sebuah kendaraan bus bergambar dan bertuliskan Adang Daradjatun yang digunakan dalam Pilkada.

Bila bisnis Nunun kini tidak jelas, bagaimana dengan aktivitas politik Nunun? Selama ini merupakan tanda tanya apakah sosok Nunun juga terlibat dalam persoalan politik, setidaknya ikut menjadi anggota partai politik. Bahkan ada yang menyangka Nunun merupakan kader PKS, karena melihat posisi suaminya yang menjadi anggota DPR dari FPKS.

Namun hal ini dibantah Ketua PKS Mustafa Kamal. PKS tidak memiliki urusan dengan Nunun walau sebagai istri kader PKS, yaitu Adang. "Kita tidak kenal Nunun," katanya singkat.

Lalu dikabarkan Nunun sebagai anggota PDIP, karena saat Pilres 2004 silam diketahui menyumbangkan dana ke pasangan Megawati-Hasyim Mujadi. Namun buru-buru hal ini dibantah oleh politisi senior PDIP, Pramono Anung. Pramono menegaskan keikutsertaan Nunun dalam Pilpres 2004 tidak lebih sebagai simpatisan biasa.

"Yang pertama di pemilu ada simpatisan. Bahwa Ibu Nunun bersimpati kepada Mbak Mega dan Pak Hasyim ya boleh-boleh saja, tetapi secara struktural resmi tidak," ujar Pramono.

Pramono yang kala itu menjabat Wasekjen PDIP mengaku tak tahu apa-apa. Ia mengaku tak banyak tahu aktivitas Nunun. "Saya waktu itu Wasekjen PDIP dan saya tidak tahu aktivitas Ibu Nunun. Bahwa Ibu Nunun hanya simpatisan bisa saja karena banyak simpatisan," tuturnya.

(zal/iy)

Share this post

Repost 0
Published by Admin - in BERITA KORUPSI
write a comment

comments

Overview

  • : CAKRAWALA JAGAD RAYA- SOLIDARITAS ANTI KORUPSI
  • CAKRAWALA JAGAD RAYA- SOLIDARITAS ANTI KORUPSI
  • : BLOG SOLIDARITAS ANTI KORUPSI - Ungkapan dan pandangan tentang berbagai permasalahan sosial, ekonomi, kemasyarakatan, lingkungan hidup, praktek penyelenggaraan negara sebagai akibat dari tindak pidana korupsi serta fenomena-fenomena terkait.
  • Contact

Profile

  • Harsudi CH
  • Anak bangsa yang miris melihat kondisi sosial ekonomi di negeri tercinta Indonesia. Tidak bisa berbuat banyak kecuali mengajak sesama anak bangsa untuk mulai sadar dan peduli melawan  korupsi yang semakin menggurita di Bumi Ibu Pertiwi ini.
  • Anak bangsa yang miris melihat kondisi sosial ekonomi di negeri tercinta Indonesia. Tidak bisa berbuat banyak kecuali mengajak sesama anak bangsa untuk mulai sadar dan peduli melawan korupsi yang semakin menggurita di Bumi Ibu Pertiwi ini.

KORUPSI ADALAH NAFAS KEHIDUPAN MAYORITAS PENYELENGGARA NEGARA

addesign-copy-1http://blog-indonesia.com/image/badge_3dyellow.gif

ANNOUNCEMENT

Archives

TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF
HILANG HARAPAN ANAK INDONESIA AKIBAT KORUPSI

.

Clipping - Politik / Korupsi

Categories

SHOLAT TIMES