Overblog Follow this blog
Edit post Administration Create my blog
December 23 2010 5 23 /12 /December /2010 01:10
22 Desember 2010 | 20:47

Yudi Rahmat  - PO
Jakarta - Hasil temuan survey Citizen Report Cards (CRC) 2010 yang dilakukan ICW, sebagian besar pasien miskin pemegang kartu Jamkesmas, Jamkesda, Gakin, dan SKTM, yakni sebesar 70 persen masih mengeluhkan pelayanan rumah sakit.


"Keluhan tersebut antara lain terkait dengan pelayanan administrasi, perawat, dokter, sarana dan prasarana, uang muka, obat, biaya dan layanan rumah sakit lainnya," kata peneliti senior ICW Febri Hendri di Jakarta, Rabu (22/12), terkait survey CRC  2010 yang dilakukan ICW pada 986 pasien miskin pemegang kartu Jamkesmas, Jamkesda, Gakin dan SKTM pada 19 rumah sakit pemerintah dan swasta di Jabodetabek.

Menurut Hendri, Survey CRC menggunakan sampel peluang (probability sample) dengan menggunakan metode sampling Two Stage Random Sampling dengan margin error antara 3 sampai empat persen. Survei dilaksanakan pada 13 Oktober 2010 – 13 November 2010.
 
Berdasarkan survei, ditemukan pasien miskin yang enggan menggunakan kartu Jamkesmas, Jamkesda dan Gakin diawal pengobatan karena khawatir ditolak berobat secara halus oleh pihak rumah sakit. Menurut dia, Penolakan tersebut disertai alasan seperti tempat tidur penuh, tidak punya peralatan kesehatan, serta tidak ada dokter atau obat yang memadai.

"Hal ini membuktikan bahwa pelayanan rumah sakit bagi pasien miskin belum kunjung membaik. Pasien miskin masih menganggap rumah sakit belum memprioritaskan pelayanan bagi mereka," ujar dia.
 
Diantara jenis pelayanan rumah sakit, pengurusan administrasi merupakan pelayanan paling banyak dikeluhkan oleh pasien miskin. Dari 989 total responden, 47,3 persen masih mengeluhkan pelayanan tersebut. Sementara keluhan terhadap pelayanan dokter, perawat, petugas rumah sakit lain, keluhan uang muka, keluhan penolakan rumah sakit dan keluhan fasilitas dan sarana rumah sakit disampaikan berturut-turut oleh 18,2 persen, 18,7 persen, 10,2 persen ,dan 13,6 persen.
 
Selain keluhan terhadap pelayanan, ternyata pasien miskin masih mengeluarkan sejumlah uang untuk berbagai biaya berobat. Kartu Jamkesmas, Gakin dan Jamkesda ternyata tidak mampu menggratiskan biaya berobat di rumah sakit.

Pasien miskin rawat inap masih mengeluarkan biaya awal masuk sebesar Rp348 ribu. Sementara biaya beli obat, periksa masing-masing sebesar Rp862 ribu, dan Rp 226 ribu. Sedangkan pasien miskin rawat jalan mengeluarkan biaya awal pengobatan (termasuk pendaftaran) sebesar Rp108 ribu dan biaya beli obat dan biaya  periksa masing-masing sebesar Rp475 ribu dan Rp468 ribu.
 
Menurut Febdri, Badan Pengawas Rumah Sakit  (BPRS) dan Mekanisme Komplain salah satu penyebab belum membaiknya pelayanan rumah sakit adalah pengambil kebijakan (policy maker) dan pengelola rumah sakit belum menjadikan suara dan keluhan pasien miskin dalam peningkatan pelayanan rumah sakit. Hal ini terlihat dari masih belum bekerjanya mekanisme komplain rumah sakit. Pasien miskin tidak tahu bagaimana dan pada siapa menyampaikan keluhannya pada pihak rumah sakit. Selain itu, mereka masih enggan dan khawatir keluhan tersebut akan berdampak terhadap pelayanan yang akan diberikan rumah sakit.

"Hal ini bertentangan dengan UU N0. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Sebagai pengguna pelayanan publik, pasien miskin memiliki hak untuk menyampaikan keluhan, menanyakan tindak lanjut keluhan, dan bahkan mengetahui perbaikan pelayanan yang dilakukan oleh penyedia pelayanan publik pasca pengaduan yang telah disampaikannya," tandasnya.

(rif)

Share this post

Repost 0

comments

Overview

  • : CAKRAWALA JAGAD RAYA- SOLIDARITAS ANTI KORUPSI
  • CAKRAWALA JAGAD RAYA- SOLIDARITAS ANTI KORUPSI
  • : BLOG SOLIDARITAS ANTI KORUPSI - Ungkapan dan pandangan tentang berbagai permasalahan sosial, ekonomi, kemasyarakatan, lingkungan hidup, praktek penyelenggaraan negara sebagai akibat dari tindak pidana korupsi serta fenomena-fenomena terkait.
  • Contact

Profile

  • Harsudi CH
  • Anak bangsa yang miris melihat kondisi sosial ekonomi di negeri tercinta Indonesia. Tidak bisa berbuat banyak kecuali mengajak sesama anak bangsa untuk mulai sadar dan peduli melawan  korupsi yang semakin menggurita di Bumi Ibu Pertiwi ini.
  • Anak bangsa yang miris melihat kondisi sosial ekonomi di negeri tercinta Indonesia. Tidak bisa berbuat banyak kecuali mengajak sesama anak bangsa untuk mulai sadar dan peduli melawan korupsi yang semakin menggurita di Bumi Ibu Pertiwi ini.

KORUPSI ADALAH NAFAS KEHIDUPAN MAYORITAS PENYELENGGARA NEGARA

addesign-copy-1http://blog-indonesia.com/image/badge_3dyellow.gif

ANNOUNCEMENT

Archives

TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF
HILANG HARAPAN ANAK INDONESIA AKIBAT KORUPSI

.

Clipping - Politik / Korupsi

Categories

SHOLAT TIMES